”Pursuing human pleasure is a tiring dead end, but pursuing Allah’s pleasure is a relaxing journey.”
”(Mengejar ridha manusia adalah jalan buntu yang meletihkan, namun mengejar ridha Allah adalah perjalanan yang menenangkan)”
Seringkali, label “baik” atau “buruk” yang melekat pada diri kita bukan lahir dari apa yang benar-benar kita lakukan, melainkan dari lisan siapa yang sedang mendongengkannya.
Seorang narator (orang yang bercerita) memiliki kuasa penuh untuk mewarnai persepsi pendengarnya. Satu cerita yang sama bisa menjadi tragedi atau komedi, tergantung dari sudut pandang mana ia dibingkai. Di sinilah kita butuh kebijaksanaan untuk tidak lekas menghakimi; sebab apa yang sampai ke telinga kita sering kali hanyalah potongan kecil dari kebenaran yang utuh.
Meski kita mungkin menjadi “tokoh jahat” dalam cerita orang lain, tetaplah tegak menjaga integritas. Tak perlu sibuk memoles citra di mata publik, karena penilaian manusia hanyalah fatamorgana, subjektif, fana, dan tak akan pernah sempurna. Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ
Artinya:
”Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka…” (Qs. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini mengajak kita mengedepankan husnuzon (prasangka baik), karena energi yang habis untuk berprasangka buruk hanya akan merusak ikatan persaudaraan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
Artinya:
““Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi (No. 2499), Ibnu Majah (No. 4251)
Hadis ini menegaskan bahwa manusia tidak luput dari dosa, namun Allah mencintai mereka yang segera kembali (bertaubat) dari kemaksiatan menuju ketaatan.
Menjelang Ramadan ini, mari menepi sejenak. Fokuslah pada introspeksi, bukan sibuk mengejar ekspektasi dan pujian manusia.
Semoga bermanfaat.
