”Do not let the purity of your heart become blind, but use your reason to discern the truth”
“(Jangan biarkan kemurnian hatimu menjadi buta, namun gunakan akalmu untuk membedakan kebenaran)”
Dalam berinteraksi, kehati-hatian adalah kunci. Untuk mengenali karakter orang, terkadang kita perlu mengambil langkah mundur. Berpura-pura lugu untuk melihat kejujuran, berbuat baik untuk menyingkap sifat-sifat oportunis, dan banyak diam untuk mengamati siapa yang meremehkan kita.
Memberikan kepercayaan secukupnya dapat menjadi ujian untuk melihat siapa yang benar-benar setia atau berkhianat, agar kita tahu kepada siapa kita harus menjaga jarak. Sikap ini bukanlah kemunafikan, melainkan kebijaksanaan untuk menjaga hati dan diri dari kerugian. Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya:
“(Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti)” (Qs. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini memerintahkan tabayyun (klarifikasi/penelitian) terhadap berita yang dibawa oleh orang fasik, agar kita tidak menimpakan musibah pada suatu kaum karena kebodohan, yang pada akhirnya menimbulkan penyesalan. Prinsip ini mendasari kehati-hatian dalam menilai karakter dan informasi, sejalan dengan konsep ‘melihat’ sebelum bertindak.
Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بنِ عَلِيّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ سِبْطِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ.
Artinya:
“Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Rasulullah SAW, dia berkata: ‘Aku hafal dari Rasulullah SAW: ”Tinggalkanlah sesuatu yang membuatmu ragu, dan kerjakanlah sesuatu yang tidak membuatmu ragu.” (HR. At Tirmidzi No.2518)
Hadis ini menekankan pentingnya sifat Wara’ (kehati-hatian) dalam segala aspek, termasuk interaksi sosial. Menjauhi perkara yang samar (syubhat) atau meragukan adalah perisai untuk melindungi keimanan dan amal.
Oleh karena itu, gunakan kecerdasan emosional dan spiritual. Amati dengan saksama. Hati yang bersih harus dijaga dengan pikiran yang cerdas dan sikap yang waspada. Berhati-hati dalam pergaulan adalah bentuk ketakwaan, yang mengarahkan pada keselamatan di dunia dan akhirat.
Semoga bermanfaat.
