Seni Mengelola Emosi dalam Berumahtangga, Harmoni dalam Cinta dan Iman

www.majelistabligh.id -

*)Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd

Berumahtangga adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya dipenuhi oleh kebahagiaan dan canda tawa, tetapi juga ujian emosi, perbedaan pendapat, dan ragam tantangan kehidupan. Dalam setiap detiknya, rumah tangga menjadi tempat di mana dua pribadi dengan latar belakang, karakter, dan kebiasaan berbeda belajar untuk hidup dalam satu atap. Oleh sebab itu, salah satu kunci utama dalam menjaga keharmonisan adalah kemampuan untuk mengelola emosi dengan bijak dan penuh kesadaran.

Emosi adalah anugerah dari Allah yang ditanamkan dalam jiwa manusia. Marah, sedih, kecewa, senang, atau gembira adalah fitrah. Namun, dalam kehidupan berumahtangga, emosi jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi bara yang membakar. Rasulullah saw mengajarkan seni mengendalikan emosi, terutama marah, dalam banyak haditsnya. Salah satunya adalah sabda beliau:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa indahnya Islam meletakkan kemuliaan bukan pada kekuatan fisik, melainkan pada kemampuan mengelola emosi. Dalam konteks rumah tangga, ini menjadi sangat relevan. Ketika suami atau istri terpancing emosi karena hal-hal sepele, lalu meledak dalam kemarahan, hubungan bisa renggang, luka hati pun menganga. Padahal, jika mampu menahan diri sejenak, memberi jeda pada emosi, dan menempatkan kasih sayang sebagai dasar bicara, persoalan bisa diredakan dengan cara yang indah.

Allah Swt. juga mengingatkan tentang pentingnya rahmah (kasih sayang) dalam rumah tangga:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).” (QS. Ar-Rum: 21)

Kasih sayang inilah yang seharusnya menjadi pondasi ketika emosi memuncak. Ketika suami istri saling menyadari bahwa rumah tangga dibangun bukan hanya karena cinta, tapi juga tanggung jawab, komitmen, dan ibadah, maka pengelolaan emosi menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.

Seni mengelola emosi bukanlah menekan atau memendam, tetapi mengolah. Marah, misalnya, bisa diungkapkan dengan cara yang tepat waktu, dengan nada yang terjaga, dan bahasa yang tidak menyakiti. Nabi Muhammad saw bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika kemarahan belum juga hilang, maka berbaringlah.” (HR. Abu Dawud).

Saran Nabi ini bukan sekadar teori, melainkan terapi psikologis dan spiritual yang sangat relevan. Menurunkan posisi tubuh saat marah adalah bentuk latihan kendali diri. Dalam praktik rumah tangga, ini bisa diartikan sebagai mengatur jeda sebelum merespons pasangan: berdiam, mengambil wudhu, atau keluar sejenak dari suasana yang memicu.

Tidak kalah penting adalah komunikasi yang terbuka. Emosi sering kali meledak karena akumulasi unspoken feelings. Suami dan istri perlu menyediakan waktu untuk berbicara dari hati ke hati, bukan sekadar saling mendengar, tapi juga memahami. Saling meminta maaf dan memaafkan adalah bagian dari manajemen emosi yang sangat Islami. Rasulullah saw bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَن يَهْحُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّار
“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Barang siapa yang mendiamkan lebih dari tiga hari dan meninggal dunia, maka ia masuk neraka.” (HR. Abu Dawud)

Hadis ini mengingatkan bahwa mendiamkan pasangan karena marah berkepanjangan bisa menjerumuskan dalam dosa. Karenanya, penting untuk selalu mencari jalan damai, saling memaafkan, dan menutup hari dengan doa dan pelukan.

Mengelola emosi dalam rumah tangga adalah seni yang membutuhkan latihan, kesadaran, dan niat lurus karena Allah. Rumah tangga yang penuh cinta dan iman bukanlah rumah tangga tanpa konflik, tapi rumah yang penghuninya mampu meredam badai dengan sabar dan kasih sayang. Sebab pada akhirnya, rumah tangga bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat saling menenangkan jiwa “litaskunu ilaiha” dan tempat terbaik untuk bertumbuh bersama dalam ridha-Nya.

Semoga setiap emosi dalam rumah tangga menjadi wasilah mendekat kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Mari Bersama-sama membangun surga di dunia dan akhirat Bersama pasangan kita. (*)

*)Guru SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga

Tinggalkan Balasan

Search