Sensitivitas Figur Nabi dalam Seni dan Kritik Sosial

www.majelistabligh.id -

Penggunaan sosok Nabi Muhammad dalam karya seni maupun buku kontroversial perlu dipilah secara bijak berdasarkan tujuan pembuatnya, baik sebagai ekspresi seni, kritik sosial, maupun kritik terhadap keagamaan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ayub. Menurut mahasiswa doktoral Universitas Leiden ini, publik perlu memahami motif di balik sebuah karya sebelum menyikapinya.

Ayub menilai, jika sebuah karya murni diciptakan sebagai bentuk ekspresi seni, kemarahan atau penolakan masyarakat merupakan bentuk respons yang sah. Kebebasan berekspresi tidak seharusnya menuntut keseragaman apresiasi dari publik.

“Jika hanya sebagai ekspresi seni, reaksi marah sebagian orang merupakan respons yang valid. Kebebasan seni juga harus diiringi pengakuan bahwa masyarakat berhak merespons secara beragam,” ujar Ayub.

Ia menambahkan, sikap yang memaksa publik untuk selalu mengapresiasi karya seni justru berpotensi mematikan keberagaman pandangan di ruang publik.

Kritik Sosial yang Salah Sasaran

Lebih lanjut, Ayub mempertanyakan efektivitas penggunaan figur Nabi Muhammad sebagai medium kritik sosial. Menurutnya, strategi tersebut berisiko memicu resistensi dari kelompok masyarakat yang sejatinya paling terdampak isu sosial tersebut.

Ia mencontohkan masyarakat Muslim kelas bawah. Bagi mereka, kecintaan kepada Nabi Muhammad adalah salah satu pegangan hidup yang paling berharga.

“Jika tujuannya kritik sosial, mengapa harus membawa-bawa Nabi Muhammad?” tegasnya.

Ayub menyarankan agar kritik sosial diarahkan secara langsung kepada sumber masalah atau pihak yang bertanggung jawab. Jika ada tokoh agama yang memang terlibat dalam persoalan tersebut, merekalah yang sepatutnya dikritik secara lugas tanpa menyentuh simbol-simbol keagamaan yang sensitif.

Terakhir, Ayub membedakan antara kritik terhadap perilaku sebagian umat dengan kritik terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ia mengimbau para kreator atau kritikus untuk bersikap jujur jika memang bermaksud mengkritik fondasi keagamaan.

“Jika memang tujuannya mengkritik Islam itu sendiri, lebih baik disampaikan secara jujur dan terbuka,” katanya.

Mengemas kritik agama seolah-olah sekadar menyoal perilaku umat dinilainya berpotensi menimbulkan bias. Ketika kritik tersebut sudah menyentuh figur pusat yang sangat dihormati, respons keras dari umat Islam tidak akan terelakkan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search