Ramadan selalu berjalan dengan cara yang aneh. Di awal bulan manusia masih sibuk menyesuaikan diri dengan lapar dan dahaga, tetapi ketika malam-malam terakhir datang, justru hati terasa tidak ingin berpisah. Ada sesuatu yang berbeda pada sepuluh malam terakhir. Ia tidak hanya menutup Ramadhan, tetapi menyimpan satu malam yang oleh Allah disebut lebih berharga daripada seribu bulan: Lailatul Qadar.
Al-Qur’an menggambarkan keagungan malam itu dengan kalimat yang sangat singkat tetapi mengguncang hati manusia:
*لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ*
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tahun. Jika dihitung, itu hampir sepanjang usia hidup manusia. Artinya, satu malam saja dapat mengalahkan nilai ibadah sepanjang hidup. Inilah rahasia mengapa sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu dipenuhi dengan doa, tangis, dan harapan.
Pada Ramadhan 1447 H tahun 2026, perjalanan menuju malam misterius itu dimulai pada Selasa malam, 10 Maret 2026, yang merupakan malam ke-21 Ramadan. Di malam ini banyak orang mulai menyadari bahwa waktu Ramadan hampir berakhir. Masjid mulai lebih ramai, mushaf Al-Qur’an kembali dibuka lebih lama, dan doa terasa lebih dalam.
Rabu malam, 11 Maret 2026 – malam ke-22.
Malam ini sering terlewatkan oleh sebagian orang karena tidak termasuk malam ganjil. Namun justru di sinilah pelajaran penting muncul: rahmat Allah tidak selalu mengikuti hitungan manusia. Kadang yang bersungguh-sungguh pada malam biasa justru mendapat kemuliaan yang tidak disangka.
Kamis malam, 12 Maret 2026 – malam ke-23.
Malam ganjil pertama yang banyak diharapkan menjadi Lailatul Qadar. Di beberapa tempat, orang mulai melakukan i’tikaf di masjid. Lampu-lampu masjid tetap menyala hingga menjelang fajar, seolah bumi ikut menunggu turunnya rahmat dari langit.
Jumat malam, 13 Maret 2026 – malam ke-24.
Di malam ini perjalanan spiritual terasa semakin dalam. Orang yang sebelumnya hanya datang sebentar ke masjid mulai mencoba bertahan lebih lama. Ramadhan mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui kesabaran malam demi malam.
Sabtu malam, 14 Maret 2026 – malam ke-25.
Salah satu malam ganjil yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa khusus yang sering dibaca pada malam pencarian Lailatul Qadar:
*اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي*
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.)
(HR. Tirmidzi)
Minggu malam, 15 Maret 2026 – malam ke-26.
Kelelahan mulai terasa. Namun justru pada saat itulah nilai ibadah semakin besar. Ketika tubuh lelah tetapi hati tetap bertahan dalam doa, di situlah keikhlasan sering muncul tanpa disadari.
Senin malam, 16 Maret 2026 – malam ke-27.
Banyak ulama menyebut malam ini sebagai malam yang paling sering bertepatan dengan Lailatul Qadar. Karena itu, di berbagai tempat umat Islam memadati masjid. Tetapi Rasulullah tidak pernah memastikan tanggalnya, agar manusia tetap mencari dengan sungguh-sungguh pada setiap malam.
Allah berfirman:
*تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ*
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.”
(QS. Al-Qadr: 4)
Selasa malam, 17 Maret 2026 – malam ke-28.
Malam ini sering menjadi pengingat bahwa waktu Ramadhan hampir habis. Banyak orang mulai menyesali hari-hari yang terlewat tanpa ibadah maksimal. Namun pintu rahmat Allah tetap terbuka hingga akhir.
Rabu malam, 18 Maret 2026 – malam ke-29.
Jika Ramadhan berakhir pada hari ke-29, maka malam ini bisa menjadi kesempatan terakhir. Di banyak masjid, doa terasa lebih panjang dan lebih penuh harap.
Kamis malam, 19 Maret 2026 – malam ke-30.
Malam terakhir yang sering terlupakan. Padahal tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu kapan Lailatul Qadar terjadi. Bisa saja malam itu datang justru ketika manusia mulai merasa Ramadhan telah selesai.
Rasulullah SAW bersabda:
*الْتَمِسُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ*
Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan
(HR. Bukhari dan Muslim)
Akhirnya, sepuluh malam terakhir Ramadan bukan sekadar tentang menemukan satu malam istimewa. Ia adalah perjalanan hati yang pelan-pelan kembali kepada Allah. Jika seseorang benar-benar menghidupkan malam-malam itu dengan doa, Al-Qur’an, dan sujud yang panjang, mungkin tanpa ia sadari—Lailatul Qadar sudah pernah menyentuh hidupnya. (*)
