*)Oleh: Gus Sholikh Al Huda
Cara Sikap Dipengaruhi Cara Pikir
Belakangan ini, muncul kembali wacana yang menggugat keberadaan ilmu filsafat dalam dunia pendidikan maupun ruang publik. Sebagian menyebut filsafat tak relevan, terlalu abstrak, bahkan dianggap berbahaya karena mendorong orang “terlalu banyak berpikir.” Seruan semacam ini sesungguhnya bukan tanda kemajuan, melainkan gejala sesat pikir — kekeliruan cara berpikir yang dampaknya dapat merusak arah sikap dan tindakan manusia.
Filsafat bukan sekadar diskusi tentang hal-hal tinggi yang tak menyentuh realitas. Ia adalah latihan untuk berpikir secara jernih, kritis, dan rasional. Filsafat mengajarkan kita bertanya sebelum menerima, memahami sebelum menilai, dan meragukan sebelum meyakini. Ia bukan ajaran yang memberi jawaban instan, melainkan alat yang mengajarkan cara bertanya dengan benar. Di sinilah nilai pentingnya.
Menghapus filsafat berarti membuang alat yang paling dasar untuk membentuk manusia yang utuh — bukan sekadar makhluk teknis yang bisa bekerja, tetapi makhluk berpikir yang bisa memahami arah hidupnya. Tanpa fondasi filsafat, pendidikan hanya akan melahirkan manusia yang terampil namun miskin orientasi, pintar tetapi tak tahu mengapa atau untuk apa ia menggunakan kepintarannya.
Lebih dari itu, sikap manusia terhadap sesama, terhadap lingkungan, bahkan terhadap dirinya sendiri sangat ditentukan oleh cara ia berpikir. Jika cara pikirnya sempit dan hitam-putih, maka sikapnya pun akan mudah menghakimi, membenci, dan menolak dialog. Tapi jika cara pikirnya kritis dan reflektif, maka sikapnya akan cenderung terbuka, toleran, dan penuh pertimbangan. Di sinilah letak bahaya ketika cara berpikir dikorbankan: cara bersikap ikut rusak.
Seruan untuk menghapus filsafat biasanya datang dari dua arah. Pertama, dari mereka yang merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilontarkan filsafat. Kedua, dari mereka yang tak sabar menghadapi proses berpikir yang panjang dan tidak langsung menghasilkan manfaat praktis. Keduanya lahir dari pola pikir yang anti-intelektual dan terburu-buru — sebuah kecenderungan yang semakin marak di era media sosial yang serba instan.
Padahal, sejarah peradaban besar selalu ditopang oleh kebesaran cara berpikir. Dari Plato hingga Al-Ghazali, dari Descartes hingga Tan Malaka, para pemikir besar membentuk arah dunia dengan pemikiran mereka. Menolak filsafat sama dengan menutup pintu terhadap kemampuan manusia untuk merefleksi dirinya sendiri — sebuah kemewahan yang justru dibutuhkan lebih dari sebelumnya di zaman yang penuh kebingungan nilai dan arah.
Menghapus filsafat bukanlah jalan keluar, melainkan jalan mundur. Sebab tanpa filsafat, kita kehilangan kompas dalam membaca dunia yang semakin kompleks. Maka, sebelum tergoda untuk menyingkirkan filsafat, baiknya kita bertanya lebih dulu: benarkah masalahnya terletak pada filsafat — atau justru pada cara kita berpikir tentang filsafat itu sendiri yang sesat. (*)
