Sesekali Patah Bukan Berarti Punah

Sesekali Patah Bukan Berarti Punah
*) Oleh : Ernawati
Ketua PCNA Tersono-Batang Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Dalam perjalanan hidup, tidak ada seorang pun yang selalu berjalan di atas jalan yang rata. Kadang kita berlari penuh semangat, kadang pula tersandung dan terjatuh. Ada saatnya hati terasa kokoh, namun ada pula masa di mana ia terasa patah. Namun dalam pandangan Islam, sesekali patah bukan berarti punah. Justru di balik kepatahan itu, Allah menyiapkan kekuatan baru yang mungkin belum pernah kita miliki.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Qur’an, Surah Al-Insyirah: 5–6)

Perhatikanlah bagaimana Allah mengulang ayat ini dua kali. Para ulama menjelaskan bahwa pengulangan ini bukan tanpa makna, melainkan sebagai penegasan bahwa setiap kesulitan selalu ditemani kemudahan. Bukan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan itu sendiri. Artinya, ketika kita merasa patah, sejatinya benih kekuatan sedang tumbuh dalam diri kita.

Dalam hidup, patah bisa bermakna gagal dalam usaha, kecewa dalam hubungan, atau runtuhnya harapan yang kita bangun bertahun-tahun. Namun Islam mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir. Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengalami berbagai ujian berat. Tahun ketika beliau kehilangan istri tercinta, Khadijah r.a., dan pamannya Abu Thalib dikenal sebagai Tahun Kesedihan.

Namun dari fase kepedihan itulah Allah memuliakan beliau dengan peristiwa agung Isra Mikraj. Dari luka, lahir kemuliaan. Dari kesedihan, lahir kedekatan dengan Allah.

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 139)

Ayat ini turun setelah kaum Muslimin mengalami kekalahan dalam Perang Uhud. Saat itu hati para sahabat terasa patah. Mereka kehilangan orang-orang tercinta. Namun Allah menegaskan agar mereka tidak larut dalam kelemahan. Keimananlah yang mengangkat derajat manusia, bukan keadaan duniawinya. Patah dalam perjuangan tidak berarti punah dalam kemuliaan.

Dalam Islam, ujian bukanlah tanda kebencian Allah. Justru sebaliknya, ujian adalah bentuk perhatian dan cinta-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang saleh, lalu yang semisalnya.

Ujian adalah proses penyucian jiwa. Ia mengikis kesombongan, menumbuhkan tawakal, dan mendekatkan hati kepada Rabb-nya.

Ketika hati terasa patah, janganlah menjauh dari Allah. Justru itulah saat terbaik untuk bersujud lebih lama, berdoa lebih khusyuk, dan menangis lebih tulus. Sebab Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah: 286)

Jika Allah mengizinkan kita mengalami kepatahan, itu berarti Dia mengetahui bahwa kita mampu melaluinya. Mungkin kita belum menyadari kekuatan itu, tetapi Allah Maha Mengetahui potensi hamba-Nya.

Patah adalah bagian dari proses. Seperti besi yang ditempa dalam panas api agar menjadi kuat, demikian pula hati seorang mukmin ditempa oleh ujian agar menjadi lebih tangguh. Pohon yang kuat bukanlah pohon yang tak pernah diterpa angin, melainkan pohon yang akarnya menghujam dalam karena sering diguncang badai.

Maka, ketika hidup terasa runtuh, ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik Perencana. Apa yang hilang mungkin diganti dengan yang lebih baik. Apa yang tertunda mungkin sedang dipersiapkan agar datang pada waktu yang paling tepat. Tugas kita hanyalah bersabar dan tetap melangkah dalam ketaatan.

Sesekali patah bukan berarti punah. Ia hanyalah jeda agar kita belajar, agar kita kembali bersandar, agar kita memahami bahwa kekuatan sejati bukan pada diri kita, melainkan pada hubungan kita dengan Allah. Selama iman masih bersemayam di dada, selama doa masih terangkat ke langit, maka tidak ada kata punah bagi seorang mukmin.

Sebab di balik setiap kepatahan, Allah sedang menulis kisah kebangkitan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search