Ali Bin Abi Tholib Karomallahu Wajha pernah mengingatkan, tentang seseorang akan berubah karena tiga hal:
1. Karena dekat dengan penguasa
2. Mempunyai kekuasaan atau jabatan
3. Kaya yang sebelumnya miskin
1. Dekat dengan Penguasa Kedekatan dengan orang yang berkuasa bisa mengubah cara seseorang berpikir, bertindak, bahkan bergaul. Ada yang menjadi lebih bijak karena belajar langsung dari pemimpin, tapi ada juga yang berubah karena ingin ikut menikmati fasilitas atau pengaruh.
Al-Qur’an memang tidak secara eksplisit membicarakan “kedekatan dengan penguasa” sebagai faktor perubahan, tetapi ada ayat-ayat yang menekankan amanah, keadilan, dan bahaya fitnah yang muncul dari kekuasaan. Salah satu ayat yang relevan adalah Surat An-Nisa ayat 58, yang menegaskan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan hukum ditegakkan dengan adil
1. Surat An-Nisa (4):58
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat ini menekankan bahwa kedekatan dengan kekuasaan harus diiringi dengan sikap amanah dan keadilan, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi
2. Surat Al-Baqarah (2):124
۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
3. Surat Al-Maidah (5):8
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Ayat ini mengingatkan bahwa kedekatan dengan penguasa tidak boleh membuat seseorang kehilangan keadilan
Kedekatan dengan penguasa bisa menjadi peluang untuk belajar kebijaksanaan dan menegakkan keadilan. Namun, ia juga bisa menjadi sumber fitnah jika seseorang hanya mencari fasilitas, kedudukan, atau keuntungan pribadi. Para ulama klasik bahkan menasihati agar berhati-hati dengan “pintu-pintu penguasa” karena di sana sering muncul godaan dunia
2. Mempunyai Kekuasaan atau Jabatan Jabatan sering kali menguji karakter. Orang yang tadinya sederhana bisa berubah karena merasa punya otoritas. Ada yang menjadi lebih bertanggung jawab, tapi ada juga yang tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaan
Al-Qur’an menekankan bahwa jabatan dan kekuasaan adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan adil, jujur, dan penuh tanggung jawab. Ayat-ayat seperti An-Nisa 58 dan Al-Maidah 8 menegaskan kewajiban pemimpin untuk menegakkan keadilan, sementara Al-Baqarah 124 menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah ujian dari Allah
1. An-Nisa 58
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Jabatan adalah amanah, bukan sekadar kedudukan. Pemimpin wajib menegakkan keadilan
2. Al-Maidah 8
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Kekuasaan tidak boleh membuat seseorang berlaku zalim atau berat sebelah
3. Al-Baqarah 124
۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
Kepemimpinan adalah ujian. Tidak semua orang yang diberi jabatan otomatis layak, melainkan harus lulus ujian kesabaran dan ketaatan.
3. Kaya Setelah Miskin Perubahan finansial drastis bisa membuat seseorang bertransformasi. Ada yang menjadi dermawan karena pernah merasakan susah, tapi ada juga yang justru lupa diri dan hidup berlebihan
Perubahan finansial memang salah satu ujian besar dalam hidup, dan Al-Qur’an banyak menyinggung tentang harta, kekayaan, serta sikap manusia ketika diberi kelapangan setelah sebelumnya mengalami kesempitan
1. Surat Al-Fajr (89):15–16
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ
Artinya: Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”
Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”756)
756) Allah menyalahkan orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan, seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. Sebenarnya, kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah bagi hamba-hamba-Nya.
2. Surat Al-Isra (17):26–27
وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
Artinya: Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
Kekayaan setelah miskin bisa membuat seseorang boros, padahal Allah mengingatkan agar tetap dermawan dan tidak berlebihan.
3. Surat At-Takatsur (102):1–2
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ
Artinya: Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu760)
760) Maksudnya adalah bersaing memperbanyak anak, harta, pengikut, kemuliaan, dan sebagainya telah melalaikan manusia dari ketaatan kepada Allah Swt.
Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Ayat ini menegur manusia yang berubah menjadi lalai karena sibuk bermegah-megahan dengan harta.
4. Surat Al-Hadid (57):20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Kekayaan adalah bagian dari ujian dunia, bukan tujuan akhir
Kaya setelah miskin bisa menjadi ladang amal bila seseorang tetap ingat masa sulitnya dan memilih untuk berbagi.
Namun, ia juga bisa menjadi sumber kelalaian bila harta membuat lupa diri, boros, atau sombong.
Al-Qur’an menekankan bahwa rezeki adalah ujian, baik dalam bentuk kelapangan maupun kesempitan.
Ketiga hal ini menunjukkan bahwa perubahan sering datang dari luar diri, lewat posisi sosial, kekuasaan, atau harta. Tantangannya adalah bagaimana seseorang tetap menjaga integritas dan nilai-nilai pribadi ketika menghadapi perubahan besar
Barangsiapa yang tidak berubah karena tiga hal tersebut, maka dia adalah tipe orang yang akalnya lurus dan akhlak mulia. (*)
