Shiyam Membakar Nikmatnya Dunia

Shiyam Membakar Nikmatnya Dunia
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Akhlak orang yang bershiyam Ramadan bukan sekedar menahan lapar dan haus. Ia adalah bulan penyucian, bulan pendidikan jiwa, bulan dimana Allah membuka pintu-pintu Rahmat-Nya bagi hamba yang ingin kembali. Namun agar shiyam tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, ada akhlak yang perlu di jaga karena di sanalah ruh shiyam bersemayam.

Lapar, haus, dan dahaga selama 14 jam, namun terasa penuh hanya dalam 5 menit berbuka. Ini adalah contoh nyata, betapa singkatnya kenikmatan dunia. Dunia menguji kita dengan panjangnya penantian lalu hanya memuaskan hanya dalam sekejap rasa. Yang lama bukan nikmatnya, tapi perjuangannya. Yang cepat bukan laparnya hilang melainkan shiyamnya yang memudar. Yang benar benar penuh bukan perut yang terisi, malainkan hati yang terlatih menahan diri.

Shiyam, mengajari kita satu hal, bahwa kenikmatan itu fana. Namun kesabaranlah yang mengantarkan kita kepada Allah dan itulah yang menumbuhkan jiwa.

Jika 5 menit saja sudah cukup membuat kita pada lapar. “Maka bayangkan kenikmatan yang terus ada, tidak hilang setelah dirasakan dan tidak meninggalkan rasa kecewa.” Dunia hanya contoh rasa kecil. Akhirat adalah jawaban utuh. “Disanalah semua sabar terbayar.”

Makna Ungkapan

* Mengurangi kenikmatan fisik
Saat berpuasa, kita menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang biasanya memberi kenikmatan jasmani. Ini seolah “membakar” atau mengikis kenikmatan dunia yang bersifat sementara.

* Membersihkan hati dari hawa nafsu
Puasa melatih kita untuk tidak tunduk pada keinginan sesaat. Nafsu duniawi yang berlebihan bisa “dibakar” dengan kesabaran dan pengendalian diri.

* Mengalihkan fokus ke akhirat
Dengan berkurangnya kenikmatan dunia, perhatian kita diarahkan pada kenikmatan ukhrawi: pahala, ketenangan batin, dan kedekatan dengan Allah.

Refleksi

* Dunia penuh kenikmatan yang cepat hilang, sementara puasa mengingatkan bahwa ada kenikmatan abadi di akhirat.

* “Membakar” di sini bukan berarti menghapus seluruh nikmat dunia, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar: sekadar sarana, bukan tujuan.

* Puasa menjadi cara untuk menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang puasa (shiyam) sebagai ibadah yang “membakar” atau mengurangi kenikmatan dunia, karena ia menahan makan, minum, dan hawa nafsu. Ayat-ayat ini menekankan bahwa tujuan puasa bukan sekadar lapar, tetapi untuk menumbuhkan takwa.

Surah Al-Baqarah ayat 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ayat ini menunjukkan bahwa puasa adalah sarana untuk mengikis hawa nafsu duniawi dan menumbuhkan takwa.

Makna “Membakar Nikmat Dunia”
* Menahan diri dari kenikmatan jasmani
Puasa mengharuskan kita meninggalkan makan, minum, dan syahwat. Ini adalah kenikmatan duniawi yang paling mendasar. Dengan puasa, seakan-akan kenikmatan itu “dibakar” untuk sementara waktu.

* Mengikis hawa nafsu
Nafsu duniawi yang berlebihan—rakus, marah, atau syahwat yang tidak terkendali—dapat dikendalikan melalui puasa. Inilah proses “pembakaran” yang membersihkan jiwa.

* Mengalihkan fokus ke akhirat
Dengan berkurangnya kenikmatan dunia, hati diarahkan pada kenikmatan ukhrawi: pahala, ketenangan batin, dan kedekatan dengan Allah.

Shiyam membakar nikmatnya dunia berarti shiyam mengikis keterikatan pada kesenangan duniawi, membersihkan jiwa dari hawa nafsu, dan mengarahkan hati kepada Allah. Dengan begitu, puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi proses spiritual yang mendalam.

 

Tinggalkan Balasan

Search