Andaikan teriakkan orang yang telah meninggal dunia diperdengarkan di atas dunia maka tidak ada manusia yang hanya sibuk dengan urusan dunianya. Kecuali sibuk beramal kebaikan.
Orang yang meninggal itu kata Nabi, ruhnya itu akan berdiri antara langit dan bumi, akan didengar, kecuali manusia tidak mampu mendengarnya, akhirnya ditutuplah liang lahad itu, baru sadar dan akan menyesal.
Silakan bekerja selama halal, mau tidak tidur siang maupun malam, silahkan, tapi ingat apa yang kita cari mati-matian di atas dunia satu rupiah pun tak kan ada yang dizinkan oleh Allah dibawa ke liang lahad.
Makna Mendalam: Apa itu “Bekal Terbaik”?
Bekal terbaik bukan sekadar materi. Ia adalah perpaduan antara niat, ilmu, akhlak, dan amal.
Dalam konteks spiritual dan pendidikan, bekal terbaik bisa berarti:
• Niat yang lurus: Merdeka memilih rida Allah, bukan popularitas atau pujian.
“Niat yang lurus” adalah fondasi utama dalam setiap langkah hidup yang bernilai. Dalam Islam, niat bukan sekadar motivasi, tapi penentu arah dan makna amal.
Niat yang lurus berarti:
* Mengarahkan hati hanya kepada Allah.
* Melakukan sesuatu bukan karena pujian, keuntungan, atau tekanan sosial.
* Menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama, bukan hasil duniawi.
* Ilmu yang bermanfaat: Bukan hanya pengetahuan, tapi yang menghidupkan hati dan membimbing tindakan.
“Ilmu yang bermanfaat” adalah salah satu bekal terbaik yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan sekadar pengetahuan, tapi cahaya yang menuntun hati dan amal.
Makna “Ilmu yang Bermanfaat”
Dalam Islam, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang:
* Menghidupkan hati, bukan hanya mengisi kepala.
* Diamalkan, bukan hanya dihafal.
* Membawa maslahat, bukan sekadar prestise.
* Mengantarkan kepada Allah, bukan menjauhkan dari-Nya.
“Apabila anak Adam wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
• Akhlak yang mulia: Kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan keberanian.
“Akhlak yang mulia” adalah buah dari niat yang lurus dan ilmu yang bermanfaat. Ia adalah wujud nyata dari iman yang hidup, dan menjadi penentu kualitas seseorang di mata Allah dan manusia.
Makna “Akhlak yang Mulia”
Akhlak bukan sekadar sopan santun, tapi:
* Refleksi dari hati yang bersih.
* Kebiasaan yang dibentuk oleh iman dan ilmu.
* Cermin karakter yang teruji dalam berbagai situasi.
“Sesungguhnya orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
• Amal yang konsisten: Kebaikan kecil yang terus dilakukan, seperti senyum, doa, atau berbagi ilmu.
“Amal yang konsisten” adalah bukti keteguhan hati dan kedewasaan spiritual. Ia bukan tentang banyaknya amal, tapi tentang ketekunan dalam kebaikan, sekecil apa pun bentuknya.
Makna “Amal yang Konsisten”
Dalam Islam, amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meski sedikit.
“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Amal konsisten adalah:
* Kebaikan yang menjadi kebiasaan, bukan hanya semangat sesaat.
* Amal yang tetap hidup, meski tidak disorot atau dipuji.
* Langkah kecil yang berulang, membentuk jejak besar dalam hidup.
Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang “siapkan bekal terbaikmu” adalah Surat Al-Baqarah ayat 197, yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa.
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Artinya: Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.
Ayat ini muncul dalam konteks ibadah haji, namun maknanya sangat luas dan relevan untuk seluruh perjalanan hidup. Ia mengajarkan bahwa:
* Takwa adalah bekal utama, bukan harta, status, atau popularitas.
* Takwa mencakup niat yang lurus, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan amal yang konsisten.
Berikut inti tafsir dari sumber-sumber terpercaya:
* Konteks ayat: Ayat ini turun dalam rangkaian hukum dan adab ibadah haji. Allah memerintahkan agar jamaah haji tidak melakukan rafats (ucapan kotor), fusuq (maksiat), dan jidal (perdebatan) selama haji.
• Makna “berbekallah”: Secara literal, ini merujuk pada bekal fisik untuk perjalanan haji. Namun, Allah langsung mengarahkan bahwa bekal terbaik bukan materi, melainkan takwa.
• Takwa sebagai bekal utama: Takwa adalah kesadaran penuh terhadap kehadiran Allah, yang membimbing perilaku, niat, dan keputusan. Ia menjadi pelindung dan penunjuk arah dalam setiap langkah hidup.
• Seruan kepada ulul albab (orang berakal): Ayat ini ditutup dengan panggilan kepada mereka yang berpikir dan merenung, agar menjadikan takwa sebagai prioritas dalam setiap perjalanan dan amal. (*)
