Sering kali masyarakat menyangka bahwa peran mendidik dan mengasuh anak lebih dominan dan eksklusif menjadi tugas ibu. Namun, dalam perspektif Islam, mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu, di mana keduanya saling melengkapi untuk membentuk pribadi anak yang baik dan berakhlak mulia. Ayah tidak hanya bertugas sebagai pencari nafkah, melainkan juga sebagai pendidik utama yang memiliki peran penting dalam perkembangan karakter dan spiritual anak.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 13:
يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ayah memegang peran vital untuk mengajarkan tauhid dan nilai-nilai utama agama kepada anak sejak dini.
Ketika situasi mengharuskan ayah mengambil alih peran ibu, baik dalam urusan pengasuhan maupun pendidikan sehari-hari, ayah harus mampu berperan ganda dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh ibu. Pendidikan anak bukan sekadar tugas sepihak, melainkan kerja sama dan sinergi antara ayah dan ibu. Dalam sunnah, banyak contoh pria shaleh yang turut serta dalam pengasuhan dan mendidik anak-anak beserta sang istri.
Pengasuhan anak bukanlah tanggung jawab tunggal salah satu orang tua, melainkan tugas bersama antara ayah dan ibu. Dalam Islam, mendidik dan mengasuh anak adalah amanah yang harus dilaksanakan secara beriringan agar tumbuh kembang anak berjalan optimal, baik dari segi fisik, mental, maupun spiritual. Ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dan keduanya wajib memberikan perhatian penuh untuk membentuk karakter anak yang berakhlak mulia dan bertakwa kepada Allah SWT.
Sering muncul anggapan bahwa ayah tidak bisa menjalankan peran seorang ibu dalam pengasuhan, padahal dalam keadaan darurat atau ketidakhadiran salah satu orang tua, peran tersebut harus dapat dijalankan berdampingan atau bergantian. Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan salah satu pihak. Keduanya harus berkolaborasi membina anak agar menjadi generasi yang kuat ilmu, iman, dan akhlaknya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayah dan ibu adalah pemimpin di keluarga yang akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah atas bagaimana mereka mendidik anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ayah dan ibu memiliki kewajiban untuk menjaga dan mengembangkan anak sebagai “rakyat”nya masing-masing, sehingga keduanya harus mampu menjalankan peran pengasuhan dan pendidikan secara seimbang dan bertanggung jawab. Bila salah satu tidak dapat hadir, maka yang lain harus siap menggantikan dengan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang.
Di zaman modern ini, peran ayah semakin diperkuat dengan pengetahuan dan akses luas akan metode pengasuhan dan pendidikan anak serta pendalaman agama. Oleh karena itu, anggapan bahwa ayah tidak bisa seprofesional ibu dalam mendidik anak menjadi mitos yang mesti diluruskan. Dalam kondisi apapun, pendidikan dan pengasuhan anak harus menjadi tanggung jawab bersama dalam keluarga, agar anak tumbuh menjadi insan bertakwa, berakhlak mulia, dan sukses dunia-akhirat.
Pengasuhan yang efektif membutuhkan sinergi antara keduanya, sehingga anak merasa mendapat perhatian, bimbingan, dan kasih sayang dari kedua orang tua. Tidak ada sekat peran yang rigid antara ayah dan ibu dalam hal mendidik anak, karena tujuan utamanya adalah mendidik generasi yang berakhlak mulia, berilmu, dan beriman. Dengan begitu, kualitas pendidikan dalam keluarga akan terjaga dan generasi masa depan dapat tumbuh dengan kokoh secara spiritual dan karakter.
Tulisan ini muncul disaat istri penulis sedang bertugas ke luar negeri dan penulis menjalankan peran pengasuhan untuk kedua putrinya. Peran Kedua orangtua sangat penting dan harus saling menguatkan, itulah Pendidikan dalam keluarga yang terus bersinergi dimanapun dan kapanpun berada.
