PEPATAH bijak mengatakan, “Apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai.” Dalam ajaran Islam, konsep ini diabadikan dalam sebuah prinsip mendalam: setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba, pada hakikatnya, adalah investasi kebaikan untuk dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Berbuat baik bukanlah suatu kerugian atau pengorbanan yang sia-sia, melainkan sebuah siklus abadi yang pasti akan kembali kepada pelakunya.
Ketika seseorang memberi sedekah, membantu sesama, atau menjaga lisan dari perkataan buruk, ia mungkin berfokus pada manfaat yang diterima oleh orang lain. Namun, secara spiritual dan psikologis, manfaat terbesar justru kembali kepada pelaku itu sendiri, antara lain berupa;
Kebaikan adalah jalan menuju keridhaan Allah, dan keridhaan-Nya adalah kebahagiaan sejati yang kembali kepada jiwa.
Ketenangan jiwa: Berbuat baik menghilangkan kegelisahan dan menumbuhkan rasa syukur, membawa kedamaian batin.
Balasan di dunia: Dengan kehendak-Nya, perbuatan baik akan dibalas dengan kemudahan urusan, perlindungan dari musibah, dan rezeki yang tidak terduga.
Janji yang Pasti
Konsep bahwa kebaikan adalah amal untuk diri sendiri ditegaskan berkali-kali dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman ini dalam ajaran Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”(QS. Al-Isra‘ [17]: 7)
Ayat di atas menunjukkan adanya korelasi langsung antara perbuatan dan hasil. Kebaikan tidak ‘hilang’ begitu saja; ia tercatat sebagai ‘milik’ sang pelaku dan akan kembali kepadanya.
Ayat lain yang lebih spesifik mengenai balasan kebaikan adalah:
“Dan apa saja kebaikan yang kamu berikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.“(QS. Ali ‘Imran [3]: 115)
Ayat ini meyakinkan bahwa sekecil apapun kebaikan, ia tidak akan luput dari perhitungan Allah. Balasan itu dijamin, dan balasan terbaik adalah milik Allah.
Nabi Muhammad saw. memperjelas prinsip ini melalui banyak sabda dan teladan hidupnya. Hadits-hadits ini memberikan dimensi praktis tentang bagaimana kebaikan itu kembali.
Salah satu hadis yang paling indah tentang balasan bagi orang yang berbuat kebaikan adalah:
“Sedekah itu tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan kezaliman (yang dilakukan kepada dirinya), melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.“(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan secara nyata tiga bentuk kebaikan yang balasannya seketika kembali kepada diri sendiri;
Sedekah: Harta tampak berkurang, tetapi berkah dan penggantinya dijamin oleh Allah.
Memaafkan: Kehilangan hak untuk membalas, tetapi diganti dengan peningkatan kemuliaan dari Allah.
Tawadhu'(Rendah Hati): Kehilangan rasa ‘tinggi diri’, tetapi dibalas dengan peningkatan derajat.
Hadis lain yang menekankan pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia adalah: “Barangsiapa melepaskan satu kesusahan dari seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan satu kesusahan dirinya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, pasti Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Ini adalah bukti yang paling jelas bahwa pertolongan dan kebaikan yang diberikan kepada orang lain adalah tabungan untuk diri sendiri saat menghadapi kesulitan terbesar, yaitu hari kiamat.
Prinsip “Siapa yang berbuat baik, hakikatnya berbuat baik kepada dirinya sendiri” adalah sebuah panggilan untuk hidup dalam kesadaran spiritual. Ini bukan hanya dorongan moral, tetapi sebuah janji ilahi. Setiap senyum yang kita berikan, setiap kesulitan yang kita bantu ringankan, setiap kata-kata yang baik yang kita ucapkan, adalah benih yang kita tanam di ladang amal kita sendiri.
Marilah kita tingkatkan frekuensi kebaikan kita, karena kita tidak sedang berbuat baik untuk orang lain semata, melainkan sedang membangun istana kebahagiaan, kedamaian, dan keselamatan untuk diri kita sendiri. (*)
