Siapakah Orang Yang Baik Itu?

Siapakah Orang Yang Baik Itu?
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Orang yang disebut baik bukanlah yang tampak paling benar di mata manusia, tetapi yang paling jujur di hadapan Allah. Nilai kebaikan itu bukan dari banyaknya amal lahir semata, melainkan dari keadaan hati.

Pertama: Orang yang hatinya bersih
Ia selalu terus membersihkan hatinya dari riya’, ujub, dengki.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
88. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.
89. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’aro: 88-89)

1. Tafsir Ibn Katsir
* Nabi Ibrahim berdoa agar tidak dihinakan pada hari kebangkitan.
* Harta dan anak-anak yang menjadi kebanggaan dunia tidak bisa menolong.
* Qalbun salim adalah hati yang bersih dari syirik, nifaq, keraguan, dan penyakit hati

2. Tafsir Isyari (Makna Spiritual)
* Manusia terdiri dari jasmani dan rohani.
* Qalbun salim berarti hati yang seimbang, tidak dikuasai hawa nafsu jasmani, dan tidak melupakan kebutuhan rohani.
* Hati yang sehat adalah pusat rohani yang mengarahkan manusia pada Allah.

3. Tafsir Al-Muyassar
* Hari itu adalah hari perhitungan amal.
* Tidak ada yang bermanfaat kecuali hati yang selamat dari syirik dan dosa besar.

Kedua: Orang yang mengenal aib dirinya sendiri
Imam Ghozali berkata: “Siapa yang sibuk melihat aib orang lain, berarti ia belum mengenal aib dirinya”
Merasa diri paling baik, tenda tertipu. Melihat kekurangan diri, tanda diberi cahaya.

Al-Qur’an menekankan pentingnya kesadaran atas kelemahan dan aib diri sendiri melalui ayat-ayat tentang introspeksi, taubat, dan larangan mengumbar keburukan. Allah menutup aib hamba-Nya sebagai bentuk kasih sayang, dan orang beriman dituntun untuk mengenali serta memperbaiki diri, bukan membuka aib di hadapan manusia.

Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan dengan Mengenal Aib Diri:

1. QS. Al-Hasyr [59]: 18
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini mengajarkan muhasabah (introspeksi), yaitu mengenali kesalahan dan aib diri sendiri sebagai bekal memperbaiki amal.

2. QS. An-Nur [24]: 19
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Larangan mengumbar aib, baik diri sendiri maupun orang lain. Mengenali aib diri seharusnya mendorong perbaikan, bukan disebarkan.

3. QS. Asy-Syura [42]: 25
وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَۙ
Artinya: Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, mengetahui apa yang kamu kerjakan,

Allah menutup aib hamba-Nya dan memberi kesempatan untuk bertaubat. Mengenali aib diri adalah pintu menuju ampunan.

4. QS. Ali Imran [3]: 135
وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
Artinya: Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,119) mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).
119) Perbuatan keji (fāḥisyah) adalah dosa besar yang akibatnya tidak hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga menimpa orang lain, seperti zina dan riba. Adapun yang dimaksud dengan menzalimi diri sendiri adalah perbuatan dosa yang akibatnya hanya menimpa diri sendiri, baik besar maupun kecil.

Ayat ini menekankan kesadaran diri setelah berbuat salah sebagai bentuk mengenali aib dan segera kembali kepada Allah.

Hikmah dari Ayat-Ayat Tersebut:
* Kesadaran diri: Mengenali aib adalah bagian dari takwa dan muhasabah.
* Menutup aib: Islam melarang membuka aib diri atau orang lain, karena itu merusak kehormatan.
* Taubat dan perbaikan: Allah membuka jalan taubat, sehingga mengenali aib bukan untuk putus asa, tetapi untuk memperbaiki diri.
* Kasih sayang Allah: Allah menutupi aib hamba-Nya sebagai bentuk rahmat, memberi ruang untuk berubah.

Ketiga: Orang yang rendah hati meski banyak amal
Beramal tanpa merasa berjasa. Dipuji takut, di cela sabar. Baginya amal adalah karunia, bukan prestasi.

Al-Qur’an menekankan bahwa orang beriman harus tetap rendah hati meski memiliki banyak amal, karena semua kebaikan adalah karunia Allah, bukan hasil kesombongan diri. Sikap tawadhu (rendah hati) digambarkan dalam beberapa ayat yang menekankan kelembutan, tidak menyombongkan diri, dan selalu mengaitkan amal dengan rahmat Allah.

1. QS. Al-Furqan [25]: 63
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Artinya: Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.

Menunjukkan ciri ‘ibadur-rahman: rendah hati dalam sikap, meski memiliki kelebihan amal.

Keempat: Orang yang hatinya hidup bersama Allah
Bukan siapa yang paling lantang bicara agama., tetapi siapa yang paling diam dari hawa nafsu. Saat sendiri ingat Allah, saat diuji tetap ridho, saat lapang tetap tawadhu’.

Al-Qur’an memang banyak berbicara tentang qalb (hati) yang hidup bersama Allah—yaitu hati yang lembut, tunduk, penuh iman, dan selalu ingat kepada-Nya. Hati yang hidup bersama Allah disebut qalbun salim (hati yang selamat), qalbun munib (hati yang kembali), dan qalbun khashi’ (hati yang tunduk).

QS. Qaf [50]: 33
مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍۙ
Artinya: (Dialah) orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya dan dia datang (menghadap Allah) dengan hati yang bertobat.

Hati yang hidup bersama Allah selalu kembali kepada-Nya, meski dalam kesunyian.

Kelima: Orang yang akhlaknya lembut kepada makhluk
Orang yang dekat dengan Allah, hatinya luas untuk manusia. Tidak mudah menyakiti, mudah memaafkan, tidak merasa lebih suci.

Al-Qur’an memang menekankan kelembutan akhlak terhadap sesama makhluk—baik manusia maupun ciptaan Allah lainnya. Sikap lembut (rifq, rahmah, tawadhu) adalah tanda hati yang hidup bersama Allah, dan menjadi ciri orang beriman sejati.

QS. Ali Imran [3]: 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya: Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Rasulullah SAW menjadi teladan kelembutan. Ayat ini menegaskan bahwa rahmat Allah melahirkan akhlak lembut.

 

Tinggalkan Balasan

Search