Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah memberikan nasihat yang sangat mendalam:
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan sibuk memperbaiki diri dan tidak peduli dengan aib orang lain. Dan barangsiapa mengenali Rabbnya, niscaya ia akan sibuk beribadah kepada-Nya dan tidak peduli dengan hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hlm. 80)
Kalimat tersebut mengandung makna yang sangat dalam dan menjadi pegangan bagi siapa saja yang ingin menapaki jalan kebaikan dan ketakwaan.
Introspeksi atau muhasabah merupakan amalan hati yang penting, namun sayangnya sering terabaikan dalam kehidupan kita yang serba cepat dan penuh distraksi ini.
Bagi seseorang yang merasa dirinya memiliki kelebihan—entah itu dalam ilmu, ibadah, kedudukan, atau harta—sering kali lupa bahwa semua itu sejatinya adalah karunia dan amanah dari Allah, bukan semata hasil dari usahanya sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, introspeksi menjadi sangat penting. Seorang mukmin sejati justru akan selalu merasa bahwa dirinya masih kurang dalam amal dan jauh dari sempurna dalam ketaatan.
Dia tidak sibuk mengungkit kelebihan, melainkan merenungi kekurangan. Ia tidak larut dalam pujian, tapi justru khawatir akan hisab di hari kemudian.
Orang yang menyibukkan hatinya dengan menghitung dosa-dosa dan aib pribadi tidak akan sempat menyebarkan aib orang lain.
Lisannya akan terjaga dari perkataan yang menyakitkan, dari ghibah dan fitnah. Hatinya tidak sibuk mencari-cari kekurangan saudaranya, karena ia tahu bahwa dirinya pun masih jauh dari kata sempurna.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain…”(QS. Al-Hujurat: 12)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat ini dengan indah:
“Jangan memeriksa rahasia seorang muslim dan jangan mencari-carinya. Tinggalkanlah mereka apa adanya, dan lupakan kesalahan-kesalahan mereka, karena jika dicari-cari akan terjadi hal buruk yang tidak seharusnya terjadi.” (Tafsir Karim Ar-Rahman, hlm. 801)
Sibuk mencari cela orang lain adalah tanda kerasnya hati dan bukti bahwa seseorang tidak mengenal aib dirinya sendiri. Ini adalah ciri buruk dari akhlak seorang mukmin.
Padahal, jika setiap orang lebih sibuk dengan koreksi dan perbaikan diri, maka suasana ukhuwah dan kasih sayang akan tumbuh subur di tengah masyarakat.
Introspeksi diri akan membuat hati lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Tidak ada waktu untuk berburuk sangka, tidak ada celah bagi hasad atau iri. Justru dengan muhasabah, seseorang bisa menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih lapang dada, dan lebih rendah hati.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
“Seorang mukmin senantiasa mengoreksi dirinya karena Allah. Hisab pada hari kiamat akan terasa ringan bagi mereka yang telah melakukan muhasabah di dunia. Sebaliknya, hisab akan terasa berat bagi orang yang lalai dan tidak pernah menilai dirinya sendiri.” (Ihya Ulumuddin, IV:404)
Sahabat mulia, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, juga pernah memberikan nasihat yang sangat menyentuh:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sungguh akan lebih meringankan hisab kalian di hari kiamat jika kalian telah menghisab diri kalian sendiri di dunia. Dan bersiaplah menghadapi hari yang agung, ketika kalian dihadapkan kepada Rabb kalian dan tidak ada sedikit pun keadaan kalian yang tersembunyi dari-Nya.”
(QS. Al-Haqqah: 18)
(Tahdzib Madarijus Salikin, I:176)
Kini saatnya bagi kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan merenungi keadaan diri. Sudah sejauh mana kita mengenal Allah dan mendekat kepada-Nya?
Sudah sejauh mana amal kita mencerminkan keimanan? Sudahkah kita meninggalkan maksiat, ataukah kita masih terlena dalam dosa-dosa yang kita anggap remeh?
Mari kita sibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan kita. Mari kita perbaiki ibadah, luruskan niat, dan tanamkan akhlak mulia dalam setiap perilaku.
Jangan biarkan waktu habis untuk mencela, menilai, dan mencari kesalahan orang lain, karena sesungguhnya kesalahan terbesar adalah lupa memperbaiki diri sendiri.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bermuhasabah, rendah hati, dan bersegera dalam memperbaiki diri. Aamiin. (*)
