Sifat Asli Manusia Selalu Muncul di Saat Yang Paling Sulit dan Menggiurkan

Sifat Asli Manusia Selalu Muncul di Saat Yang Paling Sulit dan Menggiurkan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Sifat asli manusia, baik yang baik maupun yang rapuh, sering kali baru benar-benar terlihat ketika ia berada dalam kondisi paling sulit (misalnya saat krisis, penderitaan, atau ujian berat) dan ketika ia menghadapi godaan paling menggiurkan (misalnya harta, kekuasaan, atau kenikmatan sesaat).

Untuk mengenali sifat asli seseorang.
Suami akan terlihat aslinya saat dia kaya
Istri akan terlihat aslinya saat suaminya jatuh miskin
Anak akan terlihat aslinya saat orang tuanya sudah tua
Saudara akan terlihat aslinya saat pembagian warisan
Sahabat (teman) akan terlihat aslinya saat kita dalam kesulitan
dan seorang mukmin akan terlihat aslinya saat mendapat cobaan.
Sifat asli manusia selalu muncul di saat yang paling sulit dan menggiurkan.

Dua Kondisi Penentu Watak / Dua Kondisi yang Membuka Tabir Sifat Asli

* Saat Sulit (Ujian & Krisis / Ujian Berat):

Ketika manusia menghadapi kesulitan, sifat asli seperti kesabaran, keikhlasan, atau justru keluh kesah dan putus asa akan terlihat. Contoh: seseorang yang kehilangan pekerjaan, apakah ia tetap berusaha dengan sabar atau memilih jalan pintas yang tidak halal. Saat seseorang kehilangan sandaran duniawi, barulah terlihat apakah ia sabar, tawakal, atau justru putus asa. Contoh: Nabi Ayyub ‘alaihissalam tetap sabar meski diuji sakit dan kehilangan harta.

* Saat Menggiurkan (Godaan & Kesempatan / Ujian Kenikmatan):

Ketika ada peluang besar atau kenikmatan yang menggoda, sifat asli juga muncul. Misalnya, ketika ada kesempatan korupsi, apakah seseorang tetap jujur atau tergoda mengambil keuntungan. Ketika seseorang diberi kelapangan, kekuasaan, atau kenikmatan, terlihat apakah ia bersyukur, amanah, atau justru sombong dan lalai. Contoh: Qarun yang tenggelam dalam kesombongan karena harta, berlawanan dengan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang tetap rendah hati meski diberi kerajaan besar.

Dalil yang Menguatkan
* Al-Qur’an (QS. Al-Ankabut: 2):
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Artinya: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?

* Hadis Nabi ﷺ:
”Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)

Refleksi Praktis
• Dalam kesulitan: jaga hati agar tetap sabar dan tidak menyalahkan takdir.
• Dalam kelapangan: kendalikan diri agar tidak terjerumus dalam kesombongan atau kelalaian.
* Intinya: baik kesulitan maupun kenikmatan adalah “cermin” yang menyingkap siapa kita sebenarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Search