Di sela-sela waktu istirahat kerja, Syahrul Ramadhan, Sekretaris LBH AP PDM Lumajang, menyempatkan diri berkunjung ke rumah Ustaz Abdul Hari. Ia merupakan sosok kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) potensial Jatiroto sekitar kurang lebih 50 tahun lalu. Kiprah dan kontribusinya tidak sempat dikenal luas oleh warga Muhammadiyah khususnya generasi muda Jatiroto.
Kunjungan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus upaya merekam jejak kaderisasi yang berjalan dalam diam namun berdampak panjang.
Dalam perbincangan tersebut, Ustadz Abdul Hari menuturkan, Muhammadiyah Jatiroto pada masanya dikenal kuat dan maju, ditopang militansi kader, kekompakan jamaah, serta keseriusan dalam dakwah dan pendidikan. Ia juga mengenang basecamp IPM Jatiroto dahulu berada di depan Puskesmas Jatiroto, dekat jembatan, yang menjadi pusat aktivitas kader pelajar Muhammadiyah dengan semangat ideologis yang kokoh meski fasilitas terbatas.
Pendidikan Qur’ani Berbasis Iqro
Salah satu hal yang konsisten dijaga Ustadz Abdul Hari adalah metode pembelajaran Al-Qur’an menggunakan buku pegangan Iqro. Metode ini digunakan sejak awal mendidik anak-anak di lingkungan keluarga hingga santri di lembaga pendidikan yang diasuhnya.
Menariknya, meskipun anak-anaknya tidak seluruhnya aktif dalam struktur atau kegiatan Muhammadiyah, buku pegangan mengaji yang digunakan tetap Iqro, menunjukkan bahwa nilai dan metode pendidikan Qur’ani Muhammadiyah tetap dijaga meski jalur organisasi tidak selalu ditempuh.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam mencetak generasi qiro’at Al-Qur’an yang berprestasi, tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga kedisiplinan dan adab dalam belajar Al-Qur’an.
Salah satu putrinya, Siti Hindun, pernah mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di SMP Muhammadiyah Jatiroto. Regenerasi nilai tersebut kini diteruskan oleh Haidar Ali Komarudin, adik dari Siti Hindun, yang saat ini aktif sebagai pengajar ekstrakurikuler tilawatil quran di perguruan Muhammadiyah Jatiroto.
Mengasuh Yayasan, Merawat Keberlanjutan Dakwah
Saat ini, Ustadz Abdul Hari bersama anak dan menantunya mengasuh Yayasan Al-Furqon yang berlokasi di Curahwedi, Desa Jatiroto. Yayasan ini berkembang secara bertahap dan organik. Bermula dari TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin), kemudian bertambah dengan pendirian Taman Kanak-kanak (TK) sebagai penguatan pendidikan usia dini.
Perkembangan jumlah peserta didik:
• Santri TPQ dan Madin sekitar 140 anak
• TK Al-Furqon sebanyak 25 siswa
Perkembangan ini menegaskan bahwa dakwah pendidikan yang konsisten tidak bergantung pada popularitas struktural, melainkan pada kesinambungan nilai dan metode.
Silaturahmi ini mengingatkan bahwa sejarah Muhammadiyah tidak hanya dibangun oleh kader yang menonjol secara struktural, tetapi juga oleh kader potensial yang bekerja dalam senyap. Meski tidak semua anak aktif di Muhammadiyah, nilai pendidikan Al-Qur’an dengan metode Iqro tetap dijaga, menjadi benang merah dari kader IPM Jatiroto 50 tahun lalu hingga lahirnya generasi Qur’ani dan berkembangnya Yayasan Al-Furqon hari ini. (syahrul ramadhan)
