Lebaran Idulfitri bagi umat Islam identik dengan kegiatan silaturahim. Di Indonesia, tradisi silaturahim dilakukan dengan saling mengunjungi antar teman, keluarga, kerabat, ataupun tetangga seraya saling memaafkan ke salah satu sama lain
Silaturahim berasal dari kata ‘silah’ dan ‘rahim’. Silah berarti hubungan dan rahim berarti kasih sayang.
Silaturahim sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Menjalin silaturahim juga merupakan perintah Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut:
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa: 1
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Artinya: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
Silaturrahim dalam Islam adalah ikatan hati, memperkuat persaudaraan, dan membuka pintu rezeki. Nabi ﷺ bersabda:
نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”.
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari-Muslim).
Makna hadis ini sangat dalam:
* “Diluaskan rezeki” bukan hanya soal harta, tapi juga keberkahan, ketenangan, dan kemudahan hidup.
* “Dipanjangkan umur” bisa bermakna literal, atau secara maknawi: hidup yang penuh manfaat dan dikenang kebaikannya.
* “Menyambung silaturrahim” adalah kunci: bukan sekadar berkunjung, tapi menjaga hubungan, saling mendoakan, dan menghindari konflik
Jadi, silaturrahim bukan sekadar kunjungan sosial, tapi investasi spiritual yang berdampak pada keberkahan hidup.
Adu gaya ekonomi, sebaliknya, sering muncul ketika silaturrahim berubah menjadi ajang pamer: siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih mewah rumahnya, siapa yang lebih besar jamuannya. Alih-alih mempererat hati, ia bisa menimbulkan iri, gengsi, bahkan memutus hubungan. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: “Janganlah kamu bermegah-megahan, hingga kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2).
Jadi, silaturrahim adalah jalan menuju keberkahan, sedangkan adu gaya ekonomi bisa menjadi jebakan yang merusak niat. Pertanyaannya: apakah kita datang ke rumah saudara untuk mempererat hati, atau sekadar menunjukkan siapa yang lebih “mapan”?
Idulfiri memang momen silaturrahim, tapi sering kali tergelincir jadi ajang pamer ekonomi. Agar tetap murni sebagai ibadah dan perekat hati, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:
Prinsip Dasar
• Niat lurus: datang untuk mempererat ukhuwah, bukan menunjukkan status.
* Kesederhanaan: Rasulullah ﷺ menekankan al-badzâdah min al-îmân (sederhana adalah bagian dari iman).
* Ikhlas memberi: hadiah atau jamuan bukan untuk gengsi, tapi untuk berbagi kebahagiaan.
Langkah Praktis
1. Fokus pada doa dan maaf
Jadikan inti silaturrahim adalah saling mendoakan dan memaafkan, bukan membicarakan harta atau pencapaian dunia.
2. Jamuan sederhana
Sajikan makanan secukupnya, tidak perlu mewah. Justru kesederhanaan membuat tamu merasa nyaman tanpa tekanan sosial.
3. Hindari perbandingan
Jangan menyinggung soal gaji, rumah, mobil, atau bisnis. Alihkan obrolan ke hal-hal spiritual, keluarga, atau pengalaman Ramadan.
4. Budaya berbagi
Lebih baik membawa bingkisan kecil untuk anak-anak atau fakir miskin daripada memamerkan pakaian baru atau barang mahal.
5. Teladan orang tua
Anak-anak belajar dari sikap orang tua. Jika orang tua menekankan nilai ukhuwah, anak akan meniru, bukan ikut-ikutan gengsi.
Idulfitri adalah hari kembali fitrah, bukan hari adu gaya. Silaturrahim yang ikhlas akan menumbuhkan kasih sayang, sementara pamer ekonomi hanya menumbuhkan jarak. (*)
