SMP Muhammadiyah Green School Bangun Kurikulum ISMUBA Berbasis Integrasi Lingkungan

www.majelistabligh.id -

Dalam upaya membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kokoh secara spiritual dan peduli lingkungan, SMP Muhammadiyah Green School Yogyakarta melakukan langkah progresif melalui pendampingan penyusunan materi ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) berbasis Green School.

Kegiatan pendampingan ini bukan sekadar inovasi kurikulum, melainkan gerakan pembaharuan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam yang menjawab tantangan zaman. Dengan melibatkan seluruh guru ISMUBA dan guru mata pelajaran umum, Pesantren Modern Muhammadiyah Green School (MGS) Yogyakarta menegaskan visinya sebagai pelopor pendidikan hijau yang terintegrasi secara Islami.

Kegiatan intensif ini menghadirkan Dr. Ghoffar Ismail, doktor Pendidikan Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang juga menjadi pelaksana program pengabdian masyarakat ini.

Dalam pemaparannya, Dr. Ghoffar menekankan bahwa kesadaran lingkungan bukan hanya isu kontemporer, tetapi juga bagian dari ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

“Menjaga bumi adalah bagian dari menjaga amanah Allah sebagai khalifah fil ardh. Ini bukan hanya tugas ekologis, tapi juga spiritual,” ungkap Dr. Ghoffar.

Proses penyusunan materi dimulai dengan penggalian mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang memuat prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Nilai-nilai seperti larangan berbuat kerusakan (fasad), perintah menjaga kebersihan, anjuran hidup hemat, hingga tanggung jawab manusia terhadap alam, dikompilasi dan diklasifikasikan secara sistematis.

Transformasi Kurikulum ISMUBA: Dari Akidah hingga Sejarah Islam

Nilai-nilai green tersebut kemudian diinternalisasikan ke dalam seluruh aspek materi ISMUBA. Dalam pembelajaran akidah, siswa diajak menyadari bahwa iman kepada Allah mencakup ketaatan menjaga ciptaan-Nya. Dalam mata pelajaran fikih, konsep thaharah dikaitkan dengan pentingnya kebersihan lingkungan.

“Bahkan dalam sejarah Islam, diangkat kisah-kisah teladan Rasulullah SAW dalam mencintai alam dan memperlakukan hewan serta tumbuhan dengan kasih sayang,” tambah Ghoffar.

Tidak hanya berhenti pada materi keagamaan, semangat hijau juga diintegrasikan dengan pelajaran umum. Guru-guru IPA, IPS, hingga Matematika dilibatkan untuk menemukan irisan antara tema pembelajaran mereka dengan nilai-nilai Islam.

Contohnya, saat mempelajari ekosistem di pelajaran IPA, siswa juga diajak memahami konsep tawazun (keseimbangan) dalam Islam. Di pelajaran Matematika, analisis data tentang polusi udara atau penggunaan air diperkaya dengan refleksi syariah tentang pengelolaan sumber daya alam.

Dengan model pembelajaran tematik yang terintegrasi dan berwawasan lingkungan, SMP Muhammadiyah Green School tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan tetapi juga menanamkan karakter Islami yang kuat dan kesadaran ekologis yang mendalam.

“Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih bermakna dan relevan dengan tantangan kehidupan masa kini,” jelasnya.

Melalui langkah strategis ini, MGS Yogyakarta telah menunjukkan peran nyata sebagai pesantren modern yang berpijak pada nilai-nilai Islam namun responsif terhadap isu global. Kurikulum ISMUBA berbasis Green School menjadi contoh bagaimana Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin mampu membentuk pribadi unggul yang mencintai Allah, manusia, dan alam semesta. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search