Sopan Santun itu Ditanam, Bukan Diwariskan

Sopan Santun itu Ditanam, Bukan Diwariskan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Fenomena hilangnya budi pekerti dan sopan santun adalah sinyal serius bahwa akar karakter bangsa sedang mengalami erosi.

Mengapa Budi Pekerti dan Sopan Santun Mulai Luntur?

Berdasarkan berbagai analisis, ada beberapa faktor utama:
* Digitalisasi dan media sosial: Interaksi daring yang bebas dan minim etika membuat banyak orang, terutama generasi muda, kehilangan sensitivitas sosial dan tata krama.
* Kurangnya teladan dan pembiasaan sejak dini: Peran keluarga dan sekolah dalam menanamkan nilai sopan santun semakin berkurang.
* Perubahan gaya hidup dan urbanisasi: Kehidupan yang serba cepat dan individualistis mengurangi kedalaman interaksi sosial.
* Pergeseran nilai budaya: Sopan santun dianggap kuno, sementara ekspresi bebas lebih di prioritaskan

Dampak Sosial dan Spiritual

* Menurunnya rasa hormat kepada orang tua, guru, dan sesama.
* Konflik sosial meningkat karena hilangnya empati dan adab dalam komunikasi.
* Kehilangan identitas budaya sebagai bangsa yang dikenal ramah dan santun.
* Tergerusnya nilai spiritual karena adab adalah pintu menuju akhlak dan iman.

Makna Filosofis dan Praktis

* Ditumbuhkan lewat teladan dan pembiasaan: Sopan santun bukanlah genetik atau warisan biologis. Ia tumbuh dari lingkungan, interaksi, dan contoh nyata yang diberikan oleh orang tua, guru, dan masyarakat.
* Bukan sekadar formalitas, tapi cerminan akhlak: Dalam Islam, sopan santun adalah bagian dari adab, yang mencerminkan keimanan dan kualitas hati seseorang.
* Pendidikan karakter yang aktif: Seperti menanam benih, sopan santun perlu dirawat dengan kesabaran, konsistensi, dan kasih sayang. Ia tidak bisa hanya diajarkan lewat teori, tapi harus dihidupkan dalam keseharian.

Relevansi dalam Pendidikan dan Parenting

* Di rumah, anak belajar sopan santun dari cara orang tua berbicara, menyapa, dan memperlakukan orang lain.
* Di sekolah, guru bukan hanya pengajar, tapi penanam nilai. Ketika guru menunjukkan kesantunan, murid akan meniru dan menginternalisasi.
* Dalam masyarakat, sopan santun menjadi perekat sosial yang mencegah konflik dan membangun harmoni.

Dalam Islam, sopan santun (adab/akhlaq) memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi cerminan keimanan dan ketaatan seorang muslim. Berikut beberapa alasan pentingnya sopan santun menurut Islam:
1. Perintah Allah dan Rasul-Nya
o Al-Qur’an dan hadis banyak menekankan pentingnya akhlak yang baik, termasuk sopan santun dalam berbicara, bersikap, dan bergaul.
o Allah berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
Artinya: Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isro’: 24)

Ini menunjukkan pentingnya sopan santun terhadap orang tua.

2. Cerminan Keimanan
o Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya...” (HR. Tirmidzi).
o Jadi, sopan santun adalah bagian dari kesempurnaan iman.

3. Meneladani Akhlak Rasulullah ﷺ
• Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai uswah hasanah (teladan terbaik). Beliau selalu bersikap lemah lembut, menghargai orang lain, dan penuh sopan santun, bahkan kepada musuhnya.

4. Menciptakan Keharmonisan dalam Kehidupan
• Dengan sopan santun, hubungan antar manusia menjadi damai, saling menghormati, dan menghindari permusuhan.
• Islam mengajarkan salam, senyum, dan ucapan yang baik sebagai bentuk sopan santun yang mempererat persaudaraan.

5. Mendapatkan Kemuliaan di Dunia dan Akhirat
• Orang yang menjaga sopan santun akan dihormati manusia di dunia, serta mendapatkan pahala besar di sisi Allah.
• Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangan seorang mukmin di hari kiamat selain akhlak yang mulia.(HR. Tirmidzi)

Sopan santun dalam Islam bukan sekadar etika sosial, tetapi juga ibadah yang bernilai pahala. Ia merupakan bagian dari akhlak mulia yang menjadi ciri utama seorang muslim sejati. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search