Spiritual Healthy Parenting Series #1: Mengapa Usia 0-7 Tahun itu Penting

Spiritual Healthy Parenting Series #1: Mengapa Usia 0-7 Tahun itu Penting
*) Oleh : Hanif Asyhar, M. Pd, C.H, C. Ht
Trainer Spiritual Healthy Parenting dan Konsultan Pendidikan
www.majelistabligh.id -

Persoalan pendidikan anak di dalam keluarga merupakan persoalan yang sangat banyak dibicarakan. Sebagian orang bahkan beranggapan pendidikan anak yang paling utama bukan di bangku sekolah, namun justru yang paling penting adalah tahapan pendidikan di dalam keluarga itu sendiri.

Namun tidak banyak yang mengetahui bagaimana ajaran islam mengenai pendidikan anak, khususnya berkenanaan dengan cara memberikan pendidikan dalam level usia yang berbeda. Sebab tentu perbedaan usia mempengaruhi pada perbedaan pendekatan dalam melakukan pendidikan pada anak sesuai tuntunan Islam.

Dalam pandangan Islam, anak merupakan amanah sekaligus perhiasan dunia yang harus dijaga dan dididik dengan sepenuh hati dan tanggung jawab. Fase usia 0-7 tahun sering disebut sebagai masa “keemasan” (golden age). Di mana otak anak berkembang pesat hingga 80%. Pada masa ini, kemampuan bahasa, motorik hingga kecerdasan emosional terbentuk sangat cepat, oleh karenanya rentang waktu ini, fondasi kepribadian, akhlak dan kecerdasan anak diletakkan.

 Data Penting tentang Golden Age

  1. Menurut penelitian UNESCO, bahwa 50% kecerdasan anak itu terbentuk sebelum usia 4 tahun dan mencapai 80% sebelum usia 8 tahun.
  2. Stimulasi positif yang diberikan sejak dini, seperti pembiasaan ibadah, adab serta hafalan ringan akan membekas kuat hingga dewasa.
  3. Anak usia dini belajar dengan meniru, jika dibiasakan dengan doa, salam dan Al Qur’an, maka nilai-nilai Islami akan tertanam secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, golden age ini bukan sekedar istilah tapi kenyataan yang dibuktikan dengan penelitian. Jika masa ini terlewatkan begitu saja tanpa adanya stimulasi Islami, maka peluang untuk menanamkan nilai-nilai Qur’ani akan berkurang.

Mengapa periode ini begitu “krusial” dalam perspektif islam :

  1. Masa Menanmkan Tauhid dan Fitrah

Setiap anak itu lahir dalam keadaan “fitrah”, yakni kecenderungan alami untuk mengenal dan menyembah Allah SWT. Al Qur’an surat Ar Rum : 30 menginformasikan bahwa manusia diciptakan Allah SWT dengan fitrah.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. ( HR. Bukhari ).

Pada usia 0-7 tahun ini, orang tua memiliki kesempatan emas untuk memperkenalkan eksistensi Allah SWT melalui pengenalan ciptaan-Nya, menanamkan kalimat Lailaha illa Allah Muhammad Rasulullah sejak dini niscaya akan menjadi akar yang kuat bagi pohon keimanan anak di masa depan.

  1. Prinsip Anak adalah Raja

Ali bin Abi Thalib RA memberikan panduan cara mendidik anak melalui tiga tahapan, di mana tahap pertama yakni 0-7 tahun adalah masa untuk memperlakukan anak seperti “raja”, maksudnya adalah anak harus dilayani dengan sepenuh hati, penuh dengan kasih sayang, kelembutan dan pemenuhan kebutuhan emosionalnya.

Pada fase ini, anak belum dibebani dengan hukum-hukum syari’at yang berat. Fokus utamanya adalah membangun kedekatan (bonding) antara orang tua dan anak. Apabila anak merasa dicinta, disayangi dan dihargai pada fase 7 tahun pertamanya ini, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri dan empati yang tinggi.

  1. Masa Peniruan yang Intens

Secara biologis, otak anak pada masa usia ini bekerja seperti spons yang menyerap apa pun di sekitarnya tanpa filter. Dalam Islam, keteladanan (uswah hasanah) adalah metode pendidikan terbaik. Sebagaiman Rasulullah SAW adalah contoh teladan terbaik bagi kita umat Islam.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21).

Anak itu tidak belajar dari ceramah, melainkan ia belajar dari apa yang dilihatnya melalui tindakan yang dilakukan oleh orangtuanya. Jika ia melihat orang tuanya rajin shalat dan bertutur kata dengan santun, maka nilai-nilai tersebut akan terinternalisasi ke dalam bawah sadar sebagai sebuah kebenaran alami.

  1. Pembentukan Akhlakul Karimah

Pada fase ini walaupun anak belum wajib menjalankan syariat, tapi pengenalan adab harus dimulai sejak dini. Mengajarkan cara makan dengan tangan kanan, mengucapkan salam serta berkata jujur dimulai dari pembiasaan di usia ini. Lingkungan yang Islami di rumah akan dapat membentuk “ emori rasa “ pada anak, sehingga saat anak beranjak dewasa ketaatan kepada Allah SWT tidak dirasakan sebagai beban, melainkan sebagai sebuah kebutuhan.

  1. Investasi Akhirat bagi Orang Tua

Pendidikan yang tepat pada fase usia dini merupakan sebuah investasi jangka panjang. Anak yang dididik dengan nilai Islam sejak kecil akan berpotensi besar menjadi anak sholih  yang doanya tidak terputus bagi orang tua setelah mereka tiada, sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاثة صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

“Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Bila seseorang meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali berasal dari tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Maka jika melewatkan 7 tahun pertama tanpa penanaman nila-nilai agama, sama halnya dengan membiarkan lahan subur ditumbuhi ilalang yang sulit untuk dibersihkan kemudian hari.

Oleh karenanya usia 0-7 tahun itu bukan sekedar bermain, melainkan masa krusial dalam membangun arsitektur jiwa seorang muslim. Dengan mengedepankan kasih sayang, keteladanan dan pengenalan tauhid, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kokoh secara spiritual.

Mari manfaatkan masa ini dengan memberikan perhatian terbaik, karena setiap detik yang kita habiskan bersama mereka adalah sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search