www.majelistabligh.id -
Dalam dunia parenting islami itu berlaku, bahwa setiap reaksi yang kita berikan kepada anak bukanlah sekadar balasan sesaat, tetapi sebuah aksitektur mental yang sedang kita bangun dalam jiwa mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci/membawa potensi Islam). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).
Hadis diatas menegaskan kepada kita bahwa respon atau reaksi orang tua merupakat pahat yang akan membentuk batu pualam yang bernama kepribadian anak.
Anak : Sang Peniru Ulung
Anak-anak adalah pembelajar visual dan emosional yang paling ulung, di saat orang tua merespon tumpahan susu dengan kemarahan meledak misalnya, maka anak tidak belajar cara membersihkan lantai; ia belajar bahwa sebuah kesalahan adalah bencana yang patut untuk ditakuti.
Akan tetapi sebaliknya, jika orang tua merespon dengan sebuah ketenangan sesuai teladan kelembutan Nabi Muhammad SAW, maka anak akan belajar tentang problem solving dan regulasi emosi.
Pola respon kita itu akan menjadi suara dalam ( inner voice ) anak yang tersimpan hingga mereka menginjak dewasa. Oleh karena itu apabila kita sering merepon keberhasilan mereka dengan rasa syukur kepada Allah SWT, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati.
Namun jika kita dalam merespon kegagalan mereka dengan celaan, hinaan serta meremehkannya maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa tidak aman (inscure).
Di dalam Al-Qur’an meskipun tidak ada ayat yang menggunakan istilah peniru ulung secara harfiah, tetapi Al-Qur’an memberikan arahan bagi orang tua untu berusaha menjaga diri terlebih dahulu agar dapat menjadi contoh dengan baik.
Diantara firman Allah SWT dalam Al-Qur’an adalah :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim :6).
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya). (QS. An Nisa :9).
Dari kedua ayat di atas kita dapat emeahami bahwa kesalehan anak itu dimulai dari contoh kesalehan orang tuanya dan juga lemahnya karakter anak itu merupakan akibat dari kurangnya keteladanan yang baik dari orang tua.
Pilar Respon Islami sebagai Pola Dasar
1. Sabar sebelum Bereaksi
Dalam Islam, menahan amarah merupakan sebuah kekuatan, sebagaimana Sabda Rasul SAW.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari & Muslim)
Respon yang tenang akan memberikan rasa aman kepada anak bahwa rumah adalah tempat paling nyaman untuk belajar bahkan dari sebuah kesalahan.
2. Validasi Emosi dengan Landasan Iman
Alih-alih membungkam tangis anak, validasi perasaan mereka sebagaimana Nabi memberikan contoh ketika mendengarkan keluh kesah cucu-cucunya. Hal ini dapat membentuk pola dasar bahwa perasaan mereka itu sangat berharga.
3. Konsistensi sebagai Cermin Keadilan
Allah SWT menciptakan keadilan, maka sebuah respon yang konsisten ( tidak gampang berubah-ubah tergantung mood orang tua ) akan dapat membantu anak memahami batasan moral yang jelas.
Menanam Benih Adab
Respon kita terhadap perilaku buruh anak haruslah bersifat mendidik (ta’dib ), bukan menghakimi. Saat kita merespon kekhilafan anak dengan nasihat yang lembut namun tegas, maka sejatinya kita sedang menanamkan pola dasar bahwa setiap manusia bisa salah, namun yang terbaik adalah yang bertaubat dan memperbaiki diri.
Sebagaiman Sabda Rasul SAW :
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat” (HR. At-Tirmidzi no. 2687, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Pada akhirnya kita harus ingat, bahwa kita tidak sedang membesarkan seorang anak, melainkan sedang membentuk seorang dewasa yang kelak akan menjadi orang tua juga.
Maka, jadikan setiap respon kita sebagai sebuah investasi pahala jariyah yang akan terus mengalir, membentuk generasi yang kuat secara mental dan kokoh secara iman. (*)
