Merujuk kepada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadis kita bisa menemukan bahwa syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua:
1. Ikhlas karena Allah ﷻ
2. Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ
Dua syarat ini disebutkan dengan jelas dalam akhir surat Al-Kahfi. Allah ﷻ berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi: 110)
Imam Bukhari ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “Dua hal ini merupakan dua rukun amal yang diterima. (Jadi suatu amalan) harus ikhlas karena Allah ﷻ dan sesuai dengan syari’at Rasulullah ﷺ.” (Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimy, hal. 9-12)
1️⃣ Ikhlas karena Allah ﷻ
Maksudnya adalah seseorang hanya mengharapkan ridha Allah dari setiap amalannya, bersih dari penyakit riya’ (ingin dilihat orang lain) dan sum’ah (ingin didengar orang lain), tidak mencari pujian dan balasan melainkan hanya dari-Nya. Pendek kata seluruh amalan yang ia kerjakan hanya ditujukan kepada Allah ﷻ semata, dan ini merupakan inti ajaran aqidah yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul. Mudzakkirah fil ‘Aqidah, karya Dr. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimy, hal. 10)
Perwujudan keikhlasan niat dan kesesuaian amal dengan tuntunan inilah letak ujian di dunia ini. Allah ﷻ berfirman:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Maha suci Allah yang di tanganNya kerajaan, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, mana di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 1-2)
Maksudnya adalah mana yang paling murni dan paling benar amal ibadahnya.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Jika amal ibadah ikhlas tetapi tidak sesuai tuntunan, maka tidak diterima. Dan jika sesuai tuntunan tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima pula. Suatu amal tidak diterima kecuali ikhlas dan benar. Ikhlas bilamana dilakukan karena Allah, dan benar bilamana dilakukan sesuai sunnah Nabi.”
Jadi, hakikat amal ikhlas adalah manakala seseorang memurnikan amal ibadahnya untuk Allah ﷻ semata.
2️⃣ Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ
Artinya adalah amalan yang kita kerjakan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah ﷻ harus sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Allah dan oleh Rasulullah ﷺ. Sebab agama kita yang mulia ini telah disempurnakan oleh Allah ﷻ sebelum Rasulullah ﷺ memejamkan kedua matanya untuk selama-lamanya. Maka agama kita ini sama sekali tidak membutuhkan kepada seseorang untuk menambah sesuatu ke dalamnya, ataupun menguranginya.
Allah ﷻ berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً
“Pada hari ini telah telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah ﷺ, serta memperingatkan kita agar tidak membuat hal-hal yang baru dalam agama, yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ.
Maka marilah kita kembali mengoreksi amalan-amalan yang selama ini kita kerjakan, sudahkah amalan kita ikhlas karena Allah ﷻ sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ?
اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً وَرِزْقاً طَيِّباً وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah 925, shahih).
