Sudan dan Cermin Retak Dunia Islam: Ketika Saudara Membunuh Saudara

Sudan dan Cermin Retak Dunia Islam: Ketika Saudara Membunuh Saudara
*) Oleh : M. Ainul Yaqin Ahsan, M. Pd
Pengasuh LKSA Muhammadiyah Rungkut Surabaya
www.majelistabligh.id -

Bayangkan sebuah keluarga besar yang hidup di rumah megah. Rumah itu punya halaman luas, dapur penuh makanan dan lemari berisi emas. Tapi sayangnya, kakak dan adik di rumah itu tidak akur. Mereka sama-sama merasa berhak menjadi kepala keluarga. Akhirnya, mereka saling berebut kursi, saling menuduh, bahkan saling menyerang. Padahal, darah mereka sama, dan rumah itu milik bersama.

Kira-kira seperti itulah yang terjadi di Sudan. Sebuah negara di benua Afrika yang penduduknya mayoritas beragama Islam dan banyak yang beretnis Arab. Negara ini sangat kaya sumber daya alam: tanahnya subur bahkan hasil panennya bisa memberi makan satu benua dan emasnya melimpah. Namun, semua kekayaan itu kini seperti tak berarti karena perang saudara yang mengerikan sedang melanda negeri itu.

Perang Saudara di Negeri Muslim

Dulu, Sudan dan Mesir adalah satu negara besar. Tapi setelah kudeta militer di Mesir tahun 1952, Sudan memisahkan diri dan menjadi republik pada 1956. Sejak saat itu, negara ini seperti tak pernah tenang. Kudeta demi kudeta terjadi, seolah menjadi “tradisi buruk” di dunia Arab-Afrika.

Salah satu tokoh yang terkenal adalah Umar Al-Basyir, seorang jenderal militer yang naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta juga. Awalnya ia ingin menyatukan Sudan, tapi kemudian justru menggunakan milisi bersenjata bernama Aljanjawid untuk menyerang pihak-pihak yang dianggap musuh. Milisi ini diberi senjata, uang dan kekuasaan, seperti memberi pisau kepada orang yang lapar kekuasaan. Akibatnya, antara tahun 2003–2008, lebih dari 300.000 orang dibunuh, ribuan wanita diperkosa dan banyak desa dibakar habis.

Untuk menutupi perannya, Umar Al-Basyir mengganti nama milisi itu menjadi RSF (Rapid Support Forces) — pasukan “resmi” yang sebenarnya hanyalah kelompok bayaran/mafia. Lama-kelamaan, RSF menjadi sangat kuat, bahkan mengkhianati Al-Basyir sendiri dan menggulingkannya. Ironis bukan? Pasukan yang dulu dibentuk untuk melindungi justru menjadi penyebab kehancuran.

Kekuasaan yang Memecah, Bukan Menyatukan
Setelah Al-Basyir jatuh, muncul tiga pemimpin: Abdel Fattah al-Burhan dari militer resmi (SAF), Mohamed Hamdan Dagolo “Hemetti” dari RSF, dan Abdalla Hamdok dari kalangan sipil. Hamdok, seorang ekonom profesional yang cerdas, mencoba memperbaiki negara dengan cara damai dan menata ulang militer. Tapi dua kekuatan bersenjata itu merasa terancam dan akhirnya bekerja sama menggulingkannya.

Seiring berjalannya waktu, SAF meminta RSF untuk bergabung agar tidak ada 2 militer dalam satu negara, namun RSF menolak. Keduanya berpisah jalan dan pecahlah perang saudara antara SAF dan RSF pada tahun 2023.
Padahal, keduanya sama-sama beragama Islam, sama-sama mengaku pejuang bangsa. Namun, karena ambisi dan haus kekuasaan, mereka lupa bahwa sesama Muslim adalah saudara.

Rasulullah ﷺ bersabda:
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.”
(Shahih al-Bukhori no 2262)

Namun di Sudan, justru saudara membunuh saudara, tentara memerkosa rakyatnya sendiri dan anak kecil menjadi yatim karena perang orang dewasa.

Sudan dan Cermin untuk Dunia Islam
Kalau kita lihat lebih dalam, perang di Sudan bukan hanya karena soal agama atau suku, melainkan karena perpecahan dan kerakusan. Negara asing ikut menunggangi konflik demi menguasai emas dan tanahnya. Beberapa negara Arab bahkan ikut mendanai salah satu pihak. Inilah pelajaran besar bagi dunia Islam: ketika umat terpecah, musuh akan mudah masuk.

Perhatikan bagaimana Palestina juga menderita. Ada benang merah yang sama: “ketika umat Islam tidak bersatu, darah saudara sendiri yang tumpah.” Seharusnya, umat Islam seperti tubuh yang satu. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Tapi di Sudan, tubuh itu terbelah dua dan tangan kanan kini memukul tangan kiri.

Pelajaran untuk Kita di Indonesia
Apa yang terjadi di Sudan jangan dianggap sebagai berita luar negeri. Peristiwa ini adalah cermin bagi kita di Indonesia. Negeri kita juga kaya, penduduknya mayoritas Muslim dan punya potensi besar. Tapi kalau kita saling menjatuhkan, mudah tersulut oleh perbedaan, dan lupa menjaga persatuan, maka apa yang terjadi di Sudan bisa juga terjadi di Indonesia.

Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:

Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu; bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Bersatu Lebih Kuat daripada Berkuasa
Sudan menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa persatuan hanya melahirkan kehancuran. Tidak ada yang menang dalam perang saudara, yang kalah adalah rakyat, anak-anak dan masa depan bangsa itu sendiri.

Maka, kalau ada orang di sekitar kita yang gemar memecah belah, menebar kebencian atau memperkeruh perbedaan, kita harus berhati-hati. Karena dari perpecahan kecil bisa muncul tragedi besar.

Semoga umat Islam di Sudan, Palestina dan seluruh dunia diberi kekuatan dan kesadaran untuk bersatu kembali di bawah kalimat Laa ilaaha illallah dan semoga kita belajar bahwa persaudaraan lebih mahal dari kekuasaan. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Search