Sujiwo Tejo dan Surat Maryam

Sujiwo Tejo dan Surat Maryam
*) Oleh : Suyono Warso
Editor Majelis Tabligh.id
www.majelistabligh.id -

Jagat dakwah digital dikejutkan oleh sebuah video budayawan Sujiwo Tejo yang sedang melafazkan Al-Qur’an, Surat Maryam ayat 30–35. Video yang viral pada 25 Desember 2025 tersebut hingga kini telah ditonton lebih dari 156 ribu kali dan mendapatkan sekitar 5.755 komentar. Video serupa juga diunggah ulang oleh sejumlah akun lain, di antaranya akun mualaf centre.

Beragam komentar pun bermunculan. Mulai dari kekaguman terhadap suara Mbah Tejo yang merdu—maklum, ia adalah seorang dalang yang terbiasa melantunkan suluk—hingga masukan terkait tajwid. Tidak sedikit pula yang terkejut mengetahui bahwa Mbah Tejo ternyata bisa mengaji. Bahkan, ada beberapa komentar yang menyatakan penyesalan karena selama ini mengira mantan wartawan Kompas tersebut bukan seorang muslim.

Membahas perjalanan spiritualitas Mbah Tejo memang selalu menarik. Sebagai seniman dan budayawan, ia dikenal berbicara apa adanya. Ia tidak menutupi apa yang ia pahami dan jalani dalam keseharian terkait keberagamaanya. Spiritualitas Mbah Tejo tampaknya tidak membutuhkan validasi dari sesama.  Dalam sebuah acara televisi bersama Ustaz Das’ad Latief, misalnya, Mbah Tejo pernah mengaku sebagai muslim yang taat—kecuali dalam hal salat. Ia pun meminta Ustaz Das’ad untuk meyakinkannya tentang seberapa penting menjalankan salat.

Hingga kini, motif di balik tindakan Mbah Tejo yang “tiba-tiba” mengunggah video hafalan Surat Maryam belum terungkap secara jelas. Namun, dari sudut pandang komunikasi, setiap komunikator yang menyampaikan pesan tentu memiliki tujuan tertentu kepada audiensnya. Untuk memahami maksud sebuah pesan, salah satunya dapat dilihat dari momentumnya. Tanggal 25 Desember, sebagaimana kita ketahui, merupakan hari perayaan Natal bagi umat Nasrani.

Sementara itu, isi QS. Maryam ayat 30–35 berbunyi:

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang nabi.
Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkanku melaksanakan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup.
Dan Dia memerintahkanku berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka.
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
Itulah Isa putra Maryam, perkataan yang benar yang mereka ragukan kebenarannya.
Tidak patut bagi Allah mempunyai anak. Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

Era digital telah membuka ruang yang sangat luas bagi dakwah— penyampaian pesan-pesan keagamaan kepada khalayak. Dahulu, dakwah umumnya terbatas pada mimbar masjid atau forum pengajian dengan momentum-momentum tertentu. Pendakwah pun biasanya berasal dari kalangan dai atau cendekiawan agama.

Kini, orang awam pun dapat memasuki ranah dakwah, setidaknya dalam pengertian menyampaikan nilai-nilai religius. Ketika seseorang mengunggah status WhatsApp berisi petikan ayat suci, hadis, atau kata-kata bijak dari tokoh agama, sejatinya ia sedang memainkan peran dakwah. Meski dengan keterbatasan pengetahuan dan pemahaman agama, ia telah berusaha mengajak orang lain untuk memedomani pesan-pesan kebaikan.

Bukankah dalam sebuah hadis disebutkan, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)?

Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Mbah Tejo sesungguhnya dapat dipahami sebagai sebuah bentuk dakwah. Ia memang tidak sedang berceramah atau menjelaskan tafsir QS. Maryam ayat 30–35. Ia hanya mengunggah hafalan ayat-ayat yang menjelaskan status Nabi Isa ‘alaihis salam. Namun, audiens tentu dapat menangkap konteksnya, terlebih video tersebut diunggah pada tanggal 25 Desember.

Begitulah kira-kira wajah dakwah di era digital, dengan sebagian besar audiens Generasi Z hingga Generasi Alpha. Mereka cenderung tidak menyukai pendekatan yang menggurui, tetapi lebih tertarik pada ajakan untuk berpikir dan merenung. (*)

Tinggalkan Balasan

Search