Belakangan ini, istilah “superflu” mendadak ramai diperbincangkan publik. Sebutan yang terdengar mengkhawatirkan ini memicu spekulasi mengenai munculnya jenis penyakit baru.
Namun, pakar kesehatan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan, sebab istilah tersebut bukanlah klasifikasi medis untuk virus baru.
Dr. dr. Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), seorang akademisi dari Fakultas Kedokteran IPB University, memberikan klarifikasinya. Menurutnya, superflu hanyalah istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan lonjakan kasus influenza yang dipicu oleh mutasi spesifik dari virus yang sudah ada, yakni Influenza A subtipe H3N2, khususnya pada subclade K.
Mengenal H3N2, Bukan Virus Baru, Tapi Lebih Gesit
Menurut Dr. Desdiani, jenis virus ini sebenarnya bukan pemain baru dalam dunia medis.
Subtipe H3N2 telah diidentifikasi sejak tahun 1968 dan telah mengalami evolusi genetik yang panjang.
Namun, karakteristik dari subklade K yang mendominasi hampir 90 persen kasus flu belakangan ini memang memiliki kemampuan menyebar yang lebih agresif. Fenomena ini secara ilmiah disebut sebagai genetic drift.
Dr. Desdiani memaparkan, virus influenza secara alami terus bermutasi untuk mengelabui sistem imun manusia. Perubahan kecil pada kode genetik inilah yang seringkali membuat kasus musiman melonjak drastis, seperti yang terjadi pada periode 2025 ini.
Tren Kasus dan Beban Fasilitas Kesehatan
Meskipun musim flu tahun ini tercatat datang satu bulan lebih awal dengan volume kasus mencapai tiga kali lipat dibanding tahun 2024, dr. Desdiani menyebutkan bahwa tingkat keparahannya masih dalam kategori wajar untuk flu musiman. Tantangan sebenarnya bukan pada keganasan virusnya, melainkan pada beban sistem pelayanan kesehatan.
”Banyaknya masyarakat yang terjangkit secara bersamaan akhirnya memberikan tekanan cukup berat pada daya tampung rumah sakit, sekaligus menguji ketahanan para tenaga medis yang berada di garda terdepan.”
Ketersediaan fasilitas kesehatan menjadi kunci dalam menangani peningkatan jumlah pasien secara efektif, ungkapnya dalam sebuah narasi penjelasan. Berdasarkan data dari Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) di bawah naungan WHO, tren influenza di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sempat memuncak pada Agustus 2025.
Kabar baiknya, sejak pertengahan Desember 2025, angka positivitas tes mingguan telah melandai hingga menyentuh angka 4 persen, menandakan penyebaran mulai terkendali.
Dalam menghadapi ancaman flu, Dr. Desdiani sangat menekankan pentingnya vaksinasi influenza sebagai langkah preventif paling efektif. Data menunjukkan bahwa vaksin flu mampu mereduksi risiko rawat inap hingga 70–75 persen pada anak-anak, sementara pada orang dewasa risikonya berkurang sekitar 30–40 persen.
Mengingat virus terus bermutasi, pembaruan vaksin secara berkala menjadi kebutuhan mendesak.
Kelompok rentan seperti anak-anak, remaja, lansia, ibu hamil, serta pengidap penyakit kronis wajib mendapatkan perhatian ekstra karena risiko komplikasi serius yang mereka hadapi.
Langkah Sederhana untuk Perlindungan Mandiri
Selain mengandalkan vaksin, pola hidup bersih tetap menjadi pondasi utama.
Dr. Desdiani mengimbau masyarakat untuk kembali disiplin dalam menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan.
Menggunakan masker saat merasa kurang sehat atau berada di kerumunan.
Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.
Memberikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat total di rumah saat terinfeksi.
Pada akhirnya, meskipun superflu bukan merupakan pandemi baru, fenomena ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kewaspadaan terhadap mutasi virus influenza tidak boleh kendor. Edukasi yang tepat dan langkah pencegahan mandiri adalah kunci utama agar kita tetap produktif meski di tengah musim pancaroba. (abdul fatah)
