Syaban, Bulan Yang Dilalaikan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Ridwan Manan
Pengajar Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo
LP2M PDM Sidoarjo

Syaban bulan ke delapan dalam kalender Hijriyah, terlelak antara Rajab dan Ramadan. Karema terletak diantara dua bulan istimewa, banyak umat Islam melalailakannya. Karena tertuju pada keistimewaan pahala amal pada bulan Rajab dan Ramadan, bulan Syaban sebagai persiapan dan berlatih untuk menjemput bulan Ramadhan penuh berkah dan ampunan Allah. Justru persiapan yang dilakukan kebanyakan orang hanya persiapan materi saja, pasar-pasar ramai pembeli dengan tradisi Jawa megengan.

Bahkan sebagian melakukan tradisi yang mengarah pada kemusyrikan dan kemaksiatan seperti padusan, dalam bahasa Jawa diartikan padus (mandi), mandi bareng di telaga yang dianggap keramat untuk mensucikan jiwa dan raga menyambut bulan suci Ramadan agar mendapatkan berkah. Bahkan tradisi konyol, mumpung bulan Ramadan belum tiba dipuaskan dengan kemaksiatan dan dosa.

Keutamaan bulan Syaban

Dari Aisyah Radiallahu anha, Rasulullah bersabda
يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakan, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa, dan terkadang beliau tidak puasa terus, hingga kami katakan: Beliau tidak melakukan puasa. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Syaban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana Anda berpuasa di bulan Syaban.
Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Hadis di atas merupakan dalil tentang kesunnahan melakukan ibadah pada waktu yang dilalaikan manusia dan lebih disukai Allah.
Ibnu Rajab seorang Imam, Al Hafidz lahir di Bagdad tahun 836 H menulis dalam kitab Lathaiful Ma’arif ada beberapa manfaat dalam menghidupkan waktu yang dilalaikan manusia

Pertama, perbuatan tersebut lebih samar, menuaikan amalan lebih samar dan sembunyi-sembunyi lebih utama.Terutama puasa, karena puasa merupakan amalan rahasia antara hamba dengan Allah, tidak ada riya’ di dalamnya.

Kedua, ia lebih berat di jiwa, senentara amal yang paling utama adalah yang paling berat di jiwa. Sebabnya adalah jiwa akan meniru apa yang disaksikannya pada manusia. Apabila banyak orang yang terjaga dan menunaikan ibadah maka akan banyak orang melakukan ketaatan karena meniru mereka. Sedangkan bila banyak orang yang lalai maka mayoritas manusia akan meniru mereka.

Sabda Rasulullah dari Abu Hurairah
“Islam bermula sebagai sesuatu yang aneh dan akan kembali dianggap aneh sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain, nabi ditanya
“Siapakah orabg-orang yang dianggap aneh?, Beliau menjawab. ” Yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan ketika kondisi masyarakat rusak.( HR. Ibnu Hibban)

Ketiga, orang yang menyendiri dalam mengerjakan ketaatan diantara pelaku kemaksiatan, bisa mencegah bahaya yang menimpa manusia, sehingga seakan-akan dia telah melindungi dan menjaga manusia dari azab Allah di dunia.

Bagi warga Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberikan rambu-rambu dalam mengisi bulan Syaban supaya menghindari amalan yang bersumber dari budaya atau tradisi seperti Sadranan, bersumber dari upacara Srada pada masa Majapahit, diubah namanya menjadi Sadranan berupa ziarah kubur dengan mengkhususkan ziarah kubur atau doa pada leluhur pada bulan Syaban.

Selain itu juga menghindari amalan dari hadis palsu seperti amalan Nisfu Syaban. Dianjurkan beramaliyah sesuai sunnah yaitu puasa sunnah, mengkaji amalan-amalan Ramadan dan membayar hutang puasa. Bulan Syaban termasuk bulan istimewa karena amalan-amalan manusia diangkat kehadirat Allah SWT.

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Search