Syakban, Bulan yang Dilupakan dalam Persiapan Menyambut Ramadan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Mutiatun, S.Pd.I
Peserta Sekolah Tabligh PWM Jateng IV UMKABA

Bulan Ramadan selalu dinanti-nantikan oleh umat Islam dengan penuh kerinduan. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari ucapan “Marhaban Ya Ramadan”, hingga iklan berbagai produk yang menghiasi media. Namun, di antara antusiasme menyambut bulan suci ini, seringkali kita lupa pada bulan yang sangat penting sebagai persiapan menyambut Ramadan, yaitu bulan Syakban.

Bulan Syakban sering disebut sebagai “Bulan yang Dilupakan” karena berada di antara dua bulan yang sangat penting dalam Islam, yakni Rajab (bulan haram) dan Ramadan (bulan puasa). Banyak orang lebih fokus pada kemuliaan bulan Rajab atau persiapan Ramadan, sehingga Syakban sering terlewatkan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ menekankan keutamaan bulan ini. Beliau bersabda:
“Itulah bulan yang dilupakan oleh banyak orang, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadan. Padahal, ia adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Rabb semesta alam, dan aku suka jika amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)

Keutamaan Bulan Syakban
Bulan Syakban memiliki beberapa keutamaan yang menjadikannya istimewa dalam Islam, di antaranya:

Bulan diangkatnya Amal Syakban adalah bulan diangkatnya amal perbuatan, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak amal ibadah, terutama puasa sunnah, sebagai persiapan menyambut Ramadan.

Rasulullah ﷺ sering berpuasa di bulan ini untuk melatih diri menghadapi bulan puasa yang akan datang. Sebagaimana Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa lebih banyak dalam satu bulan selain di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam Nisfu Syaban (15 Syaban)

Pada malam Nisfu Sya`ban, sebagian ulama menyebutnya sebagai malam yang penuh keutamaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah melihat seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syakban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan (sesama Muslim).” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, dan saling memaafkan agar mendapatkan ampunan dari Allah.

Bulan untuk Melatih Diri

Bulan Syaban adalah bulan yang tepat untuk melatih diri sebelum memasuki Ramadan. Rasulullah ﷺ memperbanyak ibadah di bulan ini, termasuk membaca Al-Qur’an dan berzikir. Syaban menjadi ajang pemanasan agar kita bisa lebih maksimal dalam beribadah saat Ramadan tiba.

Larangan Puasa Sunnah Setelah Malam Nisfu Sya`ban

Sering kali kita mendengar adanya larangan berpuasa sunnah setelah malam Nisfu Syaban (15 Syaban), terutama bagi mereka yang tidak terbiasa melaksanakan puasa sunnah pada bulan-bulan sebelumnya. Benarkah hal ini?

Menjaga Stamina Menjelang Ramadan

Larangan ini bertujuan agar tubuh tidak terlalu lelah menjelang Ramadan. Jika seseorang terlalu banyak berpuasa di akhir Syakban, ia mungkin akan kesulitan menjalankan puasa wajib di bulan Ramadan dengan maksimal. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila bulan Syakban telah melewati separuhnya, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani)

Membedakan Puasa Sunnah dan Wajib

Salah satu hikmah larangan ini adalah untuk membedakan antara puasa sunnah Syakban dan puasa wajib Ramadan. Dengan cara ini, umat Islam dapat merasakan perbedaan antara puasa sunnah dan puasa wajib.

Menjaga Kesehatan dan Kesiapan Fisik

Puasa membutuhkan stamina yang baik, terlebih di bulan Ramadan. Jika seseorang terlalu banyak berpuasa sebelum Ramadan, tubuhnya bisa menjadi lemah, yang berdampak pada kekuatan fisik selama Ramadan. Islam mengajarkan keseimbangan agar ibadah bisa dilakukan dengan optimal.

Puasa Sunnah dan Keutamaannya

Puasa sunnah memiliki keutamaan besar, baik puasa Nabi Daud maupun puasa Nabi Muhammad ﷺ. Puasa Nabi Daud, yang dilakukan dengan cara berpuasa sehari dan berbuka sehari, disebut sebagai puasa terbaik karena menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sementara itu, puasa sunnah Nabi Muhammad ﷺ yang sering beliau lakukan meliputi puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa di bulan Syakban. Puasa Nabi Muhammad ﷺ lebih fleksibel dan menyesuaikan kondisi umat Islam agar tetap kuat dalam menjalankan kewajiban lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amal-amal manusia diperiksa (diangkat kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah)

Keberkahan Puasa Sunnah

Puasa sunnah membawa keberkahan tidak hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Seorang budak yang merasa keberkahan hidupnya saat tinggal bersama majikan yang rajin berpuasa sunnah adalah contoh nyata betapa besar pengaruh ibadah sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunnah dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup.

Bulan Syaban adalah bulan yang penuh keutamaan, kesempatan untuk memperbanyak puasa sunnah, meningkatkan amal saleh, memohon ampunan Allah, serta melatih diri untuk menghadapi Ramadan. Larangan puasa setelah Nisfu Syaban bertujuan untuk menjaga stamina, membedakan antara puasa sunnah dan wajib, serta mencegah sikap berlebihan dalam ibadah.

Selama bulan Syaban, kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an, menghafal, dan mengamalkan ajaran-ajarannya.

Bulan Syaban disebut sebagai bulannya para pembaca Al-Qur’an, karena banyak ulama terdahulu yang memperbanyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Ini adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri secara spiritual agar semakin semangat beribadah ketika Ramadan datang.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan yang mulia. Jadikan kami hamba-Mu yang selalu beribadah dengan sebaik-baiknya sesuai tuntunan-Mu, anugerahkan kepada kami rahmat dan rida-Mu, masukkan ke surgamu beserta al-Abror, dan jauhkan kami dari gibah, fitnah, dan segala perbuatan yang merusak ukhuwah Islamiyah.” Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search