Syawal: Dua Tradisi, Dua Suasana

Syawal: Dua Tradisi, Dua Suasana
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Di Makkah, Syawal adalah bulan yang penuh berkah dan kegembiraan bagi umat Muslim. Masyarakat Muslim di sana memulai puasa Syawal pada tanggal 2 Syawal, tanpa jeda yang lama. Mereka bahkan masih melanjutkan tradisi membagi takjil di Masjidil Haram.

Di masjid-masjid lainnya, sama seperti di bulan Ramadan, namun tidak semasif bulan Ramadan. Aktivitas ibadah di masjid juga tetap ramai, dengan salat jamaah dan baca Al-Qur’an sambil menunggu Maghrib. Hal ini menciptakan suasana yang mirip dengan Ramadan.

Di sisi lain, di tanah air, suasana Syawal lebih identik dengan bersilaturrahim dan menikmati hidangan khas daerah masing-masing. Masyarakat sibuk bercengkerama sambil menikmati makanan dan minuman, seperti opor ayam, sate gule, kikil, bakso, dan berbagai macam nasi.

Minuman yang tersedia juga beragam, seperti es sirup, minuman kemasan, kolak, dan air putih. Bahkan bagi mereka yang tidak ketemu lama, Syawal merupakan momentum paling berharga untuk ngobrol sambil menikmati hidangan. Bahkan tidak jarang, ketika berkunjung di rumah saudara atau kerabat, dipersilakan makan. Tidak jarang, momentum Syawal ini bisa makan lebih dari 3 kali sehari.

Baca juga: Usai Lebaran, Saatnya Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Perbedaan ini membuat masyarakat Makkah lebih fokus pada ibadah dan mendapatkan keutamaan puasa Syawal, sedangkan di tanah air, tradisi bersilaturrahim dan menikmati hidangan lebih kuat. Masyarakat Makkah ingin mendapatkan pahala seperti orang berpuasa setahun penuh, sesuai dengan hadits Nabi yang memerintahkan puasa berturut-turut 6 hari setelah Syawal:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Di Makkah, puasa Syawal adalah kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Allah, sedangkan di tanah air, puasa Syawal lebih identik dengan kesempatan untuk bersilaturrahim dan menikmati hidangan. Dua tradisi, dua suasana, dan dua cara untuk merayakan Syawal.

22 Maret 2026.

 

Tinggalkan Balasan

Search