Dalam sejarah perjalanan dakwah Islam, kita mengenal adanya marahilud dakwah—tahapan-tahapan yang dilalui Rasulullah ﷺ dalam menyebarkan risalah. Setiap fase memiliki pendekatan yang berbeda, namun semuanya saling melengkapi. Dua di antaranya yang paling penting adalah tabligh dan taklim.
Apa itu Tabligh?
Secara bahasa, tabligh berarti “menyampaikan”. Dalam konteks dakwah, tabligh adalah aktivitas menyampaikan pesan Islam kepada umat secara luas, baik berupa seruan, peringatan, maupun motivasi.
Tabligh biasanya berbentuk pengajian akbar, ceramah umum, majelis shalawat, dzikir bersama, atau konten dakwah di media sosial. Tujuannya sederhana: agar masyarakat tersentuh hatinya, tergerak imannya, dan sadar kembali pada Allah.
Inilah yang menjadi bagian dari fase ta’rif (pengenalan) dalam marahilud dakwah. Seperti saat Nabi ﷺ menyeru kaumnya secara terang-terangan di Bukit Shafa, tabligh hadir untuk menyapa umat secara kolektif.
Apa itu Taklim?
Berbeda dengan tabligh, taklim berasal dari kata ‘allama yang berarti “mengajarkan”. Taklim lebih menekankan pada transfer ilmu secara mendalam, di mana ada interaksi langsung antara guru dan murid.
Bentuknya bisa berupa halaqah, kajian rutin, pesantren, mentoring, atau pembelajaran kitab. Fokusnya bukan hanya menyentuh hati, tapi juga menguatkan pemahaman, memperbaiki ibadah, dan membina akhlak.
Inilah yang masuk ke dalam fase takwin (pembentukan), sebagaimana Rasulullah ﷺ membina para sahabat di rumah Arqam bin Abi Arqam—melahirkan kader-kader Islam yang tangguh.
Hubungan Tabligh dan Taklim dalam Marhalah Dakwah
Tabligh dan ta’lim bukanlah dua hal yang dipisahkan, melainkan saling melengkapi.
Tabligh → memperluas jangkauan dakwah, agar banyak orang tergerak dan mengenal Islam.
Taklim → memperdalam dakwah, agar lahir generasi berilmu, berakhlak, dan siap berjuang di jalan Allah.
Jika tabligh ibarat pintu gerbang besar yang mengundang orang untuk masuk, maka taklim adalah ruang pembinaan di dalamnya.
Penutup
Majelis tabligh memiliki peran vital dalam menghidupkan semangat umat, sementara majelis taklim berfungsi menumbuhkan kedalaman iman dan pemahaman. Keduanya adalah pilar dakwah yang tidak boleh dipisahkan.
Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadis:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)
Dari hadis ini kita belajar: mulailah dengan tabligh—menyampaikan, meski sederhana. Lalu kuatkan dengan taklim—membina, agar umat tidak hanya tahu, tapi juga paham dan siap beramal. (*)
