Tabligh Saintis Muda Berkemajuan: Lestarikan Budaya, Songsong Teknologi

Tabligh Saintis Muda Berkemajuan: Lestarikan Budaya, Songsong Teknologi
*) Oleh : Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
www.majelistabligh.id -

Di tengah arus globalisasi dan derasnya kemajuan teknologi, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menyiapkan generasi muda yang mampu menjadi saintis berkemajuan. Saintis yang tidak sekadar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, tetapi juga berakar pada budaya, cerdas dalam berpikir, inovatif dalam berkarya, serta Islami dalam akhlak dan orientasi hidup. Inilah cita-cita yang sejalan dengan semangat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Budaya sebagai Akar Jati Diri

Dalam pandangan Islam, budaya tidak boleh dipandang sekadar tradisi statis yang diwariskan turun-temurun. Budaya adalah ekspresi nilai, kreativitas, dan identitas manusia. Nabi Muhammad saw. sendiri hadir dalam lanskap budaya Arab, menyaring nilai yang positif, sekaligus mereformasi yang menyimpang dari ajaran tauhid. Maka, bagi saintis muda, pelestarian budaya bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman, tetapi menjaga akar identitas agar tidak tercerabut oleh arus modernitas.

Lestarikan budaya berarti melanjutkan nilai luhur gotong royong, kesantunan, dan kecintaan pada ilmu yang telah lama hidup dalam masyarakat Nusantara. Ketika budaya ini dikawinkan dengan penguasaan teknologi, lahirlah model saintis yang tidak kering dari nilai, tidak tercerabut dari tanah airnya, dan tidak kehilangan arah dalam gemerlap modernitas.

Teknologi sebagai Tantangan dan Peluang

Kemajuan teknologi menghadirkan wajah ganda: peluang sekaligus ancaman. Di satu sisi, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan digitalisasi membuka jalan untuk memajukan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Namun di sisi lain, ia juga bisa menimbulkan kesenjangan sosial, eksploitasi data, hingga krisis moral.

Allah swt menegaskan dalam Al-Qur’an:  “Dan Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 5).

Ayat ini menunjukkan bahwa teknologi dan ilmu adalah karunia Allah, yang harus dimanfaatkan dengan tanggung jawab, bukan disalahgunakan.

Saintis muda berkemajuan harus mampu menyongsong teknologi dengan sikap kritis dan kreatif. Tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi produsen ide dan inovasi. Di sinilah pentingnya pendidikan yang menekankan riset, kreativitas, dan keberanian bereksperimen. Namun semua itu harus ditopang oleh iman, akhlak, dan visi kebermanfaatan bagi umat dan bangsa.

Kecerdasan dan Inovasi dalam Bingkai Islami

Kecerdasan saintis tidak cukup hanya diukur dari kemampuan kognitif dan teknis. Al-Qur’an mengingatkan: “Apakah mereka tidak memikirkan (merenungkan) tentang diri mereka?” (QS. Ar-Rum [30]: 8).

Ayat ini mengajarkan bahwa akal harus dipakai untuk menimbang, merenung, dan mencari kebenaran. Maka saintis muda berkemajuan harus mengembangkan kecerdasan multidimensi: intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.

Inovasi pun tidak sekadar mengejar kebaruan, tetapi harus bernilai kemaslahatan. Nabi Muhammad saw. bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Dengan demikian, karya saintis muda berkemajuan mesti menghadirkan solusi atas problem nyata: lingkungan, pendidikan, pangan, energi, hingga tata kelola masyarakat.

Gerakan Islam Berkemajuan

Muhammadiyah telah lama menggagas Islam berkemajuan sebagai paradigma untuk menyeimbangkan keimanan dengan ilmu pengetahuan. Islam berkemajuan menolak sikap jumud yang menutup diri dari perkembangan sains, sekaligus menolak sikap sekuler yang memisahkan ilmu dari agama. Di sinilah peran saintis muda menjadi sangat vital.

Mereka harus tampil sebagai jembatan: antara iman dan ilmu, antara tradisi dan inovasi, antara lokalitas budaya dan universalitas sains. Gerakan berkemajuan mendorong agar saintis muda tidak hanya sukses secara individual, tetapi juga membangun peradaban yang adil, berkemakmuran, dan bermartabat.

Strategi Mewujudkan Saintis Berkemajuan

Ada beberapa strategi yang dapat ditempuh: Pertama, Pendidikan berbasis riset dan karakter. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Muhammadiyah perlu menumbuhkan kultur riset yang berpadu dengan pendidikan akhlak. Mahasiswa harus didorong tidak hanya menjadi penghafal teori, tetapi juga penemu solusi. Kedua, Kolaborasi lintas bidang. Tantangan zaman menuntut saintis muda untuk berkolaborasi lintas disiplin: sains dengan humaniora, teknologi dengan etika, riset dengan kearifan lokal. Ketiga, Penguatan literasi budaya. Budaya lokal tidak boleh dipandang remeh. Kearifan tradisional dapat dipadukan dengan teknologi modern untuk menciptakan inovasi yang kontekstual dan berakar pada masyarakat. Keempat, Orientasi pada kemaslahatan. Semua inovasi dan temuan ilmiah harus kembali pada tujuan Islam: menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

Tabligh sebagai harapan dan amanah

Saintis muda berkemajuan adalah harapan sekaligus amanah bagi masa depan bangsa. Mereka diharapkan mampu menjaga akar budaya, menguasai teknologi, berpikir cerdas, berkarya inovatif, dan berakhlak Islami. Dengan spirit gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah menaruh harapan besar lahirnya saintis-saintis muda yang dapat menjadi lokomotif peradaban.

Di tangan mereka, budaya tidak hanya dilestarikan tetapi juga diberi makna baru. Teknologi tidak hanya diikuti, tetapi diciptakan dan diarahkan untuk kebaikan. Kecerdasan tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi alat untuk membebaskan umat dari kebodohan dan ketertinggalan. Inilah jalan menuju peradaban Islam berkemajuan yang sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search