Tafsir Global dan Dakwah Islam Masa Depan

Tafsir Global dan Dakwah Islam Masa Depan
*) Oleh : Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maliki Malang
www.majelistabligh.id -

Dakwah Islam hari ini berada pada persimpangan penting antara kesetiaan pada tradisi dan kebutuhan menjawab realitas global yang terus berubah. Dunia tidak lagi berdiri dalam sekat-sekat lokal yang kaku. Informasi bergerak lintas batas, persoalan kemanusiaan saling terkait, dan umat Islam hidup dalam konteks sosial, politik, serta budaya yang beragam. Dalam situasi seperti ini, dakwah yang hanya bertumpu pada pendekatan tekstual-lokal berisiko kehilangan daya relevansinya. Di sinilah urgensi dakwah berbasis tafsir global menemukan momentumnya.

Tafsir global bukanlah tafsir yang melepaskan diri dari sumber-sumber klasik, apalagi mengganti otoritas Al-Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya, tafsir global adalah upaya memahami pesan Al-Qur’an secara komprehensif dengan mempertimbangkan konteks kemanusiaan universal, dinamika global, dan tantangan lintas zaman. Ia memandang Al-Qur’an sebagai kitab hidayah bagi seluruh manusia (hudā li al-nās), bukan hanya sebagai teks hukum untuk komunitas terbatas.

Dalam dakwah, tafsir global berfungsi sebagai jembatan antara nilai-nilai transenden wahyu dan problem nyata umat manusia hari ini: krisis lingkungan, ketimpangan sosial, konflik identitas, kemiskinan struktural, ketidakadilan gender, hingga krisis makna di tengah modernitas. Dakwah yang berangkat dari tafsir global tidak semata-mata berbicara tentang halal-haram secara normatif, tetapi menghadirkan Islam sebagai kekuatan etis dan solutif bagi peradaban.

Salah satu karakter utama tafsir global adalah penekanan pada nilai-nilai universal Al-Qur’an seperti keadilan (al-‘adl), kasih sayang (al-raḥmah), kemanusiaan (al-insāniyyah), dan kemaslahatan (al-maṣlaḥah). Nilai-nilai ini bersifat lintas budaya dan lintas agama, sehingga dakwah Islam dapat berdialog secara konstruktif dengan dunia global tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Sebagai contoh, tafsir global terhadap firman Allah dalam QS. Al-Hujurāt ayat 13:

Wahai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”

Dalam tafsir lokal-tradisional, ayat ini sering dipahami sebagai dasar etika sosial antarsuku dan antarkelompok dalam masyarakat Muslim. Tafsir global memperluas maknanya: ayat ini menjadi fondasi teologis bagi pluralisme, dialog antarbudaya, dan kerja sama global. Dakwah berbasis tafsir ini tidak berhenti pada pesan toleransi internal, tetapi mendorong umat Islam untuk terlibat aktif dalam membangun perdamaian dunia, melawan rasisme, dan merawat keberagaman sebagai sunnatullah.

Contoh lain dapat dilihat pada QS. Al-Anbiyā’ ayat 107:

Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Tafsir global memandang ayat ini sebagai mandat peradaban. Dakwah tidak boleh hadir dalam bentuk ujaran kebencian, eksklusivisme sempit, atau legitimasi kekerasan atas nama agama. Sebaliknya, dakwah harus menampilkan Islam sebagai rahmat ekologis, sosial, dan kultural. Dalam konteks krisis iklim global, misalnya, tafsir global mendorong dakwah lingkungan: menjaga alam bukan isu sekunder, tetapi bagian dari amanah kekhalifahan manusia di bumi.

Pendekatan tafsir global juga tampak dalam memahami ayat-ayat keadilan sosial, seperti QS. An-Nisā’ ayat 135 tentang penegakan keadilan. Dakwah berbasis tafsir ini tidak cukup menyerukan kejujuran personal, tetapi berani mengkritik struktur sosial yang melanggengkan ketimpangan, korupsi, dan penindasan. Dengan demikian, dakwah tidak terjebak pada moral individual semata, melainkan bergerak menuju transformasi sosial.

Namun, dakwah berbasis tafsir global tentu memiliki tantangan. Sebagian kalangan khawatir pendekatan ini akan “melonggarkan” ajaran agama atau terjebak pada relativisme nilai. Kekhawatiran ini perlu dijawab secara proporsional. Tafsir global bukan relativisasi wahyu, melainkan kontekstualisasi pesan ilahi agar tetap hidup dan membumi. Justru tanpa keberanian membaca konteks global, dakwah berisiko menjadi kaku, ahistoris, dan terasing dari realitas umat.

Di sinilah peran dai dan cendekiawan Muslim menjadi krusial. Mereka dituntut memiliki literasi keislaman yang kuat sekaligus wawasan global yang memadai. Dai masa kini bukan hanya penghafal dalil, tetapi juga pembaca zaman. Ia mampu mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan isu kemanusiaan global tanpa kehilangan kedalaman spiritual dan ketundukan pada wahyu.

Pada akhirnya, dakwah berbasis tafsir global adalah ikhtiar menjadikan Islam tetap relevan, membebaskan, dan mencerahkan di tengah dunia yang kompleks. Dakwah semacam ini tidak hanya mengajak umat untuk taat secara ritual, tetapi juga hadir sebagai kekuatan moral yang menyembuhkan luka-luka peradaban. Dengan tafsir global, dakwah Islam tidak sekadar berbicara kepada umat, tetapi berbicara untuk kemanusiaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search