Tak Cukup Prestasi Akademik, Mendikdasmen Dorong Sekolah Muhammadiyah Perkuat Distingsi dan Integrasi Ilmu

Tak Cukup Prestasi Akademik, Mendikdasmen Dorong Sekolah Muhammadiyah Perkuat Distingsi dan Integrasi Ilmu
www.majelistabligh.id -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd  mengingatkan agar Sekolah Muhammadiyah tidak hanya mengandalkan capaian prestasi akademik semata. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus memiliki keunggulan yang lebih luas, terutama dalam pembentukan karakter, kekuatan moral, serta kemampuan melahirkan kader-kader persyarikatan yang unggul di masa depan.

“Sekolah Muhammadiyah harus melahirkan kader-kader di berbagai keunggulan selain akademik tetapi memiliki nilai moral, islam berkemajuan,” pesan Abdul Mu’ti dalam Rapat Koordinasi Nasional Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah tahun 2026 di Makassar, Jumat (13/2/2026) malam.

Tak Cukup Prestasi Akademik, Mendikdasmen Dorong Sekolah Muhammadiyah Perkuat Distingsi dan Integrasi Ilmu
Para peserta rapat Koordinasi Nasional Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah tahun 2026 di Makassar, Jumat (13/2/2026) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menyambut positif pelaksanaan Rakornas tahun ini. Ia menilai forum strategis seperti ini sangat penting untuk meningkatkan mutu dan daya saing pendidikan Muhammadiyah secara nasional. Rakornas bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi merupakan ruang konsolidasi gagasan, evaluasi program, serta perumusan arah kebijakan pendidikan Muhammadiyah ke depan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan fondasi pendidikan Muhammadiyah.

“Kegiatan seperti ini sebagai modal sosial dan modal moral bagi pendidikan Muhammadiyah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pendirian dan pengembangan sekolah Muhammadiyah harus dilakukan dengan perencanaan strategis yang matang dan berbasis kebutuhan masyarakat, bukan sekadar mengikuti tren atau euforia sesaat.

“Mendirikan pendidikan Muhammadiyah harus melalui strategi planning yang matang, tidak boleh hanya karena mengikuti trend saja. Sejak awal Muhammadiyah menekankan dalam belajar Al-Qur’an pemahaman dan pengamalan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.

Lebih lanjut, Prof. Mu’ti menyoroti pentingnya membangun cara pandang yang utuh terhadap ilmu pengetahuan. Ia menyinggung masih adanya anggapan di sebagian kalangan bahwa mata pelajaran tertentu seperti matematika kurang relevan dalam perspektif keagamaan. Padahal, menurutnya, seluruh disiplin ilmu memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia, baik di dunia maupun dalam perspektif keakhiratan.

“Masih banyak orang Muhammadiyah yang menganggap matematika bukan sesuatu yang penting. Padahal matematika sangat itu memiliki keterkaitan dalam kehidupan dunia sampai akhirat. Pembelajaran harus mengajarkan pelajaran secara integrated,” jelasnya.

Karena itu, pendidikan Muhammadiyah harus memiliki distingtif (pembeda) yang jelas dibandingkan dengan sekolah lainnya. Model pendidikan Muhammadiyah, lanjutnya, memiliki tiga konstruksi utama yang menjadi fondasi kuat, yaitu agama sebagai konstruksi dasar, integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, serta implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial.

“Spirit atau nilai pendidikan Muhammadiyah harus kita kaji. Sekolah Muhammadiyah harus memiliki distingsi dengan yang lainnya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan Muhammadiyah harus melahirkan keunggulan yang nyata dan terukur, baik dalam aspek akademik, karakter, maupun kontribusi sosial. Dalam konteks pembentukan karakter, ia menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang sehat dan berintegritas.

“Sekolah Muhammadiyah harus mampu meninggalkan tiga K yaitu, jangan konflik, jangan korupsi, jangan kolod,” tegasnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri dikenal sebagai gerakan pembaruan. Oleh karena itu, semangat tajdid (pembaruan) harus terus dihidupkan dalam pengelolaan pendidikan.

“Ada tiga pembaharuan dalam Muhammadiyah, pembaharuan berpikir, perubahan perubahan, pembaharuan dalam bergerak,” ungkapnya.

Menurutnya, sekolah Muhammadiyah saat ini telah memiliki modal sosial dan modal moral yang kuat. Sinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha, menjadi kekuatan tersendiri dalam mengembangkan mutu pendidikan.

Sekolah Muhammadiyah yang telah menunjukkan praktik baik (best practices) harus dapat direplikasi di daerah lain agar kualitas pendidikan merata dan tidak terpusat hanya di kota-kota besar.

Di sisi lain, Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya strategi perluasan akses dan segmentasi masyarakat. Sekolah Muhammadiyah harus mampu menarik kelompok masyarakat MUKIDI (muda, kaya, intelek, dermawan, idealisme) sebagai bagian dari penguatan jejaring dan dukungan sosial.

“SekoIah Muhammadiyah harus bisa mengambil kelompok masyarakat MUKIDI (muda, kaya, intelek, dermawan, idealisme),” pesannya.

Namun demikian, pengembangan sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya menyasar kelompok menengah ke atas. Ia menegaskan pentingnya memperluas jangkauan layanan pendidikan hingga ke wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), sebagai wujud komitmen dakwah dan keadilan sosial.

“SekoIah Muhammadiyah harus bisa menjangkau ke daerah 3T,” pungkasnya.

Dengan demikian, pendidikan Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menjadi institusi pembelajaran, tetapi juga pusat pembinaan karakter, penguatan moral, serta kawah candradimuka lahirnya generasi Islam berkemajuan yang berintegritas, unggul, dan berkontribusi bagi bangsa dan kemanusiaan.  (sholihin fanani)

 

Tinggalkan Balasan

Search