Pesan mendalam tentang tauhid dan takdir menggema dalam Kultum Salat Tarawih di Masjid Al Amin Ngampelsari, Sabtu (21/2/2026). Dalam tausiah tersebut, Ustadz Syukron Dian, Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kader dan SDI Candi Sidoarjo, mengingatkan jemaah pada hadis agung yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas.
Hadis tersebut merekam nasihat langsung Rasulullah ﷺ kepada Abdullah bin Abbas, yang saat itu masih seorang anak muda.

Ustadz Syukron membacakan sabda Nabi yang diriwayatkan dalam hadis hasan shahih oleh Al-Tirmidzi.
“Wahai anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Ia melanjutkan sabda Nabi:
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberi manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
Fondasi Tauhid Sejak Muda
Dalam penjelasannya, Ustadz Syukron menegaskan bahwa kalimat “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu” bermakna menjaga perintah dan menjauhi larangan-Nya.
“Siapa yang menjaga agama, Allah akan menjaga hidupnya, hatinya, keluarganya, bahkan akhir kehidupannya,” ujarnya di hadapan jemaah.
Menurutnya, hadis ini menanamkan tauhid murni sejak usia muda. Seorang mukmin tidak menggantungkan harapan pada manusia, jabatan, maupun kekuatan dunia.
“Jika meminta, mintalah kepada Allah. Hati tidak boleh bergantung kepada selain-Nya,” tegasnya.
Ikhtiar dan Keyakinan
Ustadz Syukron juga menekankan pentingnya memadukan ikhtiar dan keyakinan. Upaya tetap dilakukan secara maksimal, namun keyakinan penuh hanya tertuju kepada Allah.
“Pertolongan sejati hanya dari Allah. Manusia hanya perantara,” katanya.
Ia menjelaskan, pemahaman tentang takdir melahirkan ketenangan dan keberanian. Seorang mukmin tidak mudah gentar menghadapi ancaman dan tidak sombong saat meraih keberhasilan.
“Manusia tidak memiliki kuasa di luar kehendak Allah. Inilah yang menumbuhkan tawakal dan kekuatan mental,” imbuhnya.
Membentuk Jiwa Tangguh
Hadis ini, lanjutnya, menjadi fondasi akidah dan keteguhan jiwa seorang mukmin. Dari hadis tersebut, terdapat sejumlah hikmah besar, antara lain menanamkan tauhid sejak muda, membentuk pribadi yang bertawakal, serta membebaskan hati dari ketergantungan kepada manusia.
Kultum berlangsung khidmat. Jemaah menyimak dengan penuh perhatian, terutama saat penjelasan tentang takdir yang dinilai relevan dengan kondisi kehidupan saat ini.
Pesan Rasulullah ﷺ yang disampaikan kembali dalam suasana Ramadan itu menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati bersumber dari iman dan keyakinan kepada ketetapan Allah. (*/tim)
