Pentas seni (Pensi) pada salah satu acara dari kegiatan Perkemahan Jum’at Sabtu (Perjusa) SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Gadung Surabaya yang digelar di halaman sekolah, didominasi oleh dance kreasi siswa sendiri, Jum’at 23/05/2025
Di tengah-tengah kegelapan malam, semua lampu dipadamkan. Para peserta berbaris melingkar mengelilingi halaman, para peserta Perjusa telah siap mengikuti acara api unggun.
Di tengah-tengah lingkaran peserta, telah disiapakan seonggok kayu bakar kering yang siap meramaikan acara yang dinanti-nantik para peserta.
“Anak-anak, api adalah makhluk Allah yang bermanfaat bagi manusia. Dapat dimanfaatkan untuk memasak dan menghangatkan tubuh,” ujar Kak Rohana, panggilan akrab Siti Rohana pembina Pandu Hisbul Wathan (HW).
Selanjutnya dia menjelaskan bahwa api unggun bukan untuk didewakan, apa lagi disembah. Karena jika menyembah api itu perbuatan syirik.
“Karena yang berhak disembah hanyalah Allah SWT,” sambungnya.
Setelah pengarahan dan pemahaman tentang api unggun, tiba-tiba “Wuusssss….!” Api menyala mengagetkan penghuni Kompleks pendidikan Muhammadiyah Wonokromo.
“Wawwww….! Teriak para peserta hampir bersamaan.
Untuk memeriahkan acara, puluhan pembina berbaris dan berjalan mengelilingi api unggun.
“Anak-anak, kita bukan kaum Majusi yang mendewakan dan menyembah api, tetapi kita hamba Allah yang hanya bertuhan kepada Allah,” jelas Hudayatun Ni’mah, Kepala Urusan Kesiswaan yang didapuk menjadi pembina upacara api unggun.
Masih rangkaian acara api unggun, para peserta akan menampilkan kreasi masing-masing kelompok. Mereka tampil sesuai urutan kelas. Masing-masing kelas akan diminta menapilkan dua kali saja, kelompok putra dan putri.
“Anak-anak, karena waktunya sangat terbatas, maka penampilan kami batasi setiap kelas dua kelompok saja,” jelas Kak Fahri. Hal ini, supaya kalian nanti bisa istirahat cukup. Karena besok pagi masih ada agenda padat yang harus kalian lakukan. Penjelajahan membutuhkan energi yang kuat.
“Ya….! Kami sudah latihan sesuai kelompok,” seru Aqila nama lengkapnya Aqillah Khanza Mahira Ahfazhani kelas 6-C kecewa.
Dibantu oleh beberapa guru pendamping, akhirnya panitia mengabulkan permintaan anak-anak untuk tampil semua. “Tetapi durasi kita batasi maksimal dua menit,” jelas Alffiah Hidayah, pemandu acara
Sekalipun beberapa kelompok kecewa dengan keputusan dengan diperpendek durasi, dia harus menerima.
“Padahal kelompok kami berdurasi 5 menit,” Gumam kelompok kelas 6-C
Penampilan setiap kelompok sangat meriah, dominasi kelompok putri yang tampil. Rata-rata mereka menampilkan dance kreasi sendiri. Kelompok laki-laki kebanyak gerakan menggunakan semapur.
Sepeti kelompok kelas 4-ICP, diiringi musik rancak, mereka tampil dengan semangat. Gerakan demi gerakan meraka sangat kompak. Formasi yang merekatampilkan memukau para penonton. Tepuk tangan pun menyambut penampilannya.
Lagi-lagi kelas 4-ICP, tetapi untuk kelompok perempuan. Ini tidak kalah kompaknya. Dengan backsound ‘Oh my Darling I Love You’ membuat penonton melek.
Tidak kalah semangat, May Puspitasari emaknya Ramsha Shaquilla Nabilah Adistyansyah kelas 4-ICP. Selama penampilan anaknya, dia abadikan dengan kamera HP nya, menyemangati anaknya sekali-kali dengan mengangkat jarinya memberi isyarat sayang.
Tepuk tangan dan teriakan penonton tidak henti-hentinya hingga tempilan berakhir. Berbagai tampilan telah disuguhkan, satu demi satu telah tampil, penutup tampilan dari kelas 6-A dan 6-C.
Istimewanya tampilan terakhir yang disajikan oleh kelas 6-C ini durasinya paling panjang. Selama 5 menit lebih tampa potong waktu. Mereka menampilkan kreasi sendiri dengan backsound ‘wonderland’. Perpaduan tarian dari berbagai daerah, dia suguhkan di hadapan para pendamping, pembina dan panitia. Dengan dresscode seragam Pandu HW dipadu dengan kain batik yang dibalutkan pinggangya, mereka bersemangat.
Tim yang dipimpin oleh Aqilah ini mendapat sambutan luar biasa.
“Kita berikan tepuk tangan yang gemuruh untuk penampil terakhir” Seru Alfia mengahiri acara pensi. (basirun, kontributor sd musix)
