Mencari Tanda Alam dan Kesungguhan Ibadah: Kritik Ulama terhadap Fenomena Perburuan Tanda Lailatul Qadar

Tanda Alam dan Kesungguhan Ibadah: Kritik Ulama terhadap Fenomena Perburuan Tanda Lailatul Qadar
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah & anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Setiap memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, kaum Muslimin berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar, malam yang Allah sebut lebih baik daripada seribu bulan.
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Namun dalam realitas masyarakat modern muncul fenomena yang cukup mencolok: sebagian orang sibuk mencari tanda-tanda alam seperti cahaya tertentu, suasana malam yang sangat hening, atau matahari yang redup pada pagi harinya. Bahkan tidak jarang beredar berbagai klaim di media sosial tentang “malam Lailatul Qadar telah terlihat”.

Para ulama sebenarnya telah lama memberikan kritik terhadap pendekatan seperti ini, karena dikhawatirkan menggeser fokus dari ibadah kepada sekadar observasi fenomena alam.

Perintah Nabi: Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir
Dalam hadits sahih, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk menunggu tanda-tanda alam, tetapi untuk memperbanyak ibadah.
Dari Aisha bint Abi Bakr:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.”¹

Dalam riwayat lain Nabi ﷺ bersabda:
«تَحَرَّوْهَا فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ»
Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.”²
Namun praktik Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau menghidupkan seluruh malam, bukan hanya malam tertentu.

Dari Aisha bint Abi Bakr:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ³
Apabila masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”

Hadits ini menunjukkan bahwa orientasi utama adalah ibadah, bukan observasi fenomena alam.

Kritik Ulama terhadap Fenomena “Mencari Tanda Alam”

Walaupun hadits menyebutkan beberapa tanda Lailatul Qadar, para ulama menegaskan bahwa tanda tersebut bukan untuk dijadikan fokus utama pencarian.

1. Penjelasan Imam Nawawi
Imam Yahya ibn Sharaf al-Nawawi menjelaskan hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar:
وَإِنَّمَا أُخْفِيَتْ لِيَجْتَهِدَ النَّاسُ فِي الْعِبَادَةِ فِي جَمِيعِ الْعَشْرِ
“Lailatul Qadar disembunyikan agar manusia bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh sepuluh malam terakhir.”⁴
Dengan demikian, jika seseorang justru sibuk mengamati tanda alam, maka ia telah mengabaikan hikmah utama disembunyikannya malam tersebut.

2. Kritik Ibn Hajar al-Asqalani
Dalam Fath al-Bari, Ibn Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Beliau menulis:
وَالْحِكْمَةُ فِي إِخْفَائِهَا لِيَقَعَ الِاجْتِهَادُ فِي جَمِيعِ اللَّيَالِي
Hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar adalah agar kesungguhan ibadah dilakukan pada seluruh malam.”⁵
Jika seseorang hanya menunggu tanda alam tertentu, maka ia justru bertentangan dengan hikmah tersebut.

3. Penjelasan Ibn Rajab al-Hanbali
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma‘arif memberikan kritik halus terhadap orang yang terlalu fokus pada tanda.
Beliau menjelaskan:
وَإِنَّمَا تُذْكَرُ أَمَارَاتُهَا لِمَنْ وَافَقَهَا فِي الْعِبَادَةِ، لَا لِيَنْشَغِلَ النَّاسُ بِطَلَبِهَا
Tanda-tanda Lailatul Qadar disebutkan bagi orang yang telah beribadah pada malam itu, bukan agar manusia sibuk mencarinya.”⁶
Artinya, tanda tersebut bersifat konfirmasi setelah ibadah, bukan objek pencarian utama.

4. Pandangan Ibn Taymiyyah
Menurut Ibn Taymiyyah, Lailatul Qadar tidak selalu tetap pada satu malam.
Beliau menulis:
وَلَيْلَةُ الْقَدْرِ تَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ
Lailatul Qadar dapat berpindah-pindah dalam sepuluh malam terakhir.”⁷
Karena itu, mengabaikan sebagian malam hanya karena menunggu tanda tertentu adalah kesalahan metodologis dalam memahami sunnah.

Bahaya Spiritual dari Fenomena Ini
Para ulama juga mengingatkan bahwa terlalu sibuk mencari tanda-tanda alam dapat menimbulkan beberapa dampak negatif:
 Mengurangi kesungguhan ibadah karena fokus berpindah pada fenomena alam.
 Mendorong spekulasi dan klaim subjektif tentang kapan Lailatul Qadar terjadi.
 Mengabaikan sunnah Nabi yang justru menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Padahal Nabi ﷺ telah memberikan doa khusus yang seharusnya menjadi fokus utama ibadah malam tersebut. Dari Aisha bint Abi Bakr:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: «اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي»⁸
“(Aku berkata): Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?
Beliau menjawab: Ucapkanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.’”

Kesimpulan
Fenomena berburu tanda-tanda alam Lailatul Qadar sebenarnya bukan inti dari ajaran Nabi ﷺ. Hadits-hadits sahih dan penjelasan para ulama menunjukkan bahwa:
Lailatul Qadar harus dicari pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Hikmah disembunyikannya malam tersebut adalah agar manusia bersungguh-sungguh beribadah sepanjang malam-malam tersebut.
Tanda-tanda alam hanyalah informasi tambahan yang diketahui setelah malam itu berlalu, bukan fokus utama pencarian.

Karena itu, pendekatan yang paling sesuai dengan sunnah adalah menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah, bukan sekadar menunggu fenomena alam tertentu.

Dengan demikian, sikap terbaik bagi seorang Muslim adalah memperbanyak shalat malam, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan doa, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. (*)

Catatan Kaki:
1. Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, no. 2020.
2. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 1169.
3. Al-Bukhari no. 2024; Muslim no. 1174.
4. Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 8:57.
5. Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 4:266.
6. Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma‘arif, 203.
7. Ibn Taymiyyah, Majmu‘ al-Fatawa, 25:284.
8. HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search