Tanpa Ada Prioritas, Dakwah Kehilangan Arah

Tanpa Ada Prioritas,  Dakwah Kehilangan Arah
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengasuh Kajian Rutin Tafsir Al Qur'an, Yayasan Ma'had Al Huda Sidoarjo, PRM Berbek
www.majelistabligh.id -

الدَّاعِيَةُ الحَكِيمُ هُوَ الَّذِي يَضَعُ قَاعِدَةَ الأَوْلَوِيَّاتِ فِي مَسِيرَتِهِ الدَّعَوِيَّةِ، فَلاَ يُقِيمُ عَلَى بَرْنَامَجٍ إِلاَّ بَعْدَ أَنْ يَعْرِضَهُ عَلَى قَاعِدَةِ الأَوْلَوِيَّاتِ. وَهَذَا النَّوْعُ مِنَ الدُّعَاةِ يَنْجَحُ بِشَكْلٍ سَرِيعٍ، وَيُحَقِّقُ أَهْدَافًا عَظِيمَةً لَهُ وَلِلدَّعْوَةِ. وَأَمَّا الدَّاعِيَةُ الَّذِي لاَ يُرَتِّبُ أَوْلَوِيَّاتِهِ، فَفِي الغَالِبِ أَنَّهُ يُخَطِّئُ كَثِيرًا، وَتَفُوتُهُ فُرَصٌ كَثِيرَةٌ.

“Seorang dai yang bijak adalah ia yang meletakkan kaidah prioritas dalam perjalanan dakwahnya. Ia tidak menempuh sebuah program kecuali setelah menimbangnya dengan kaidah prioritas. Jenis da’i seperti ini biasanya akan berhasil dengan cepat, meraih tujuan besar bagi dirinya dan bagi dakwah.
Adapun seorang dai yang tidak menyusun prioritasnya, maka umumnya ia banyak terjatuh dalam kesalahan, serta kehilangan banyak kesempatan emas.”

Sumber:
رسائل ووقفات سلطان العمري – ١٠٠ كلمة في طريق الدعوة
(Risalah dan Waqaf Syaikh Sultan al-‘Umari, 100 Kalimat di Jalan Dakwah).

“Prioritas: Kompas Emas Seorang Da’i”

Dalam samudera luas perjalanan dakwah, setiap dai ibarat nahkoda kapal. Lautan dakwah penuh dengan ombak—gelombang masalah, arus fitnah, dan badai tantangan yang tak kunjung reda. Tanpa kompas yang jelas, kapal itu bisa terseret ke arah yang salah, meski layar terkembang dan awak penuh semangat.

Kompas itu bernama prioritas (الأولويات).

Ia bukan sekadar daftar to-do list, tapi peta jalan jiwa yang menuntun seorang dai agar tidak tersesat dalam kesibukan. Betapa banyak orang sibuk, tapi tidak produktif. Berlari kencang, tapi menuju arah yang salah. Maka, prioritas adalah cahaya yang membedakan antara gerak yang berfaedah dan sekadar aktivitas kosong.

Seorang dai yang bijak menimbang setiap langkah: mana yang harus segera, mana yang bisa ditunda, mana yang utama, mana yang sekadar pelengkap. Dari situlah lahir keberhasilan yang cepat—bukan karena ia terburu-buru, tapi karena ia tepat sasaran. Seperti pemanah yang hanya melepas satu anak panah, namun langsung menembus titik pusat sasaran.

Sebaliknya, seorang dai yang berjalan tanpa prioritas ibarat petualang yang hilang peta. Ia mungkin berjalan jauh, tapi sering tersesat. Ia mungkin mengayuh dayung, tapi melawan arus. Dan akhirnya, ia kehilangan peluang emas yang hanya datang sekali seumur hidup.

Dalam dakwah, waktu adalah modal abadi, dan peluang adalah harta karun tersembunyi. Tanpa seni menimbang prioritas, keduanya akan terbuang sia-sia.

Maka, seorang dai harus selalu bertanya pada dirinya:

Apakah langkah ini sejalan dengan misi besar dakwah?

Apakah ini kebutuhan umat yang paling mendesak?

Apakah ini membawa keberkahan atau hanya menyita waktu?

Prioritas adalah falsafah keberlanjutan. Ia bukan hanya strategi, tapi hikmah hidup.

Sebagaimana seorang tukang kebun yang bijak akan menyiram pohon yang hampir layu sebelum bunga, demikian pula dai bijak: ia menyelamatkan yang paling penting agar taman dakwah tetap hidup dan bersemi.

Tinggalkan Balasan

Search