Tanwir XXXIII IMM Hasilkan 8 Pokok Pemikiran: Energi Kolektif untuk Negeri

Tanwir XXXIII IMM Hasilkan 8 Pokok Pemikiran: Energi Kolektif untuk Negeri
www.majelistabligh.id -

Perhelatan Tanwir ke-XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) resmi berakhir pada Jumat (31/10/2025) di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Forum strategis tingkat nasional yang mengusung tema “Energi Kolektif untuk Negeri” ini menelurkan hasil penting berupa dokumen 8 Pokok Pemikiran Tanwir XXXIII IMM, yang menjadi refleksi sekaligus respons atas dinamika kebangsaan dan keumatan di Indonesia saat ini.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM, M. Zaki Mubarak, menegaskan bahwa delapan pokok pemikiran tersebut akan menjadi arah strategis gerakan IMM ke depan. Ia menilai, hasil Tanwir bukan hanya panduan internal organisasi, tetapi juga bentuk kontribusi intelektual IMM terhadap bangsa.

“Pokok pemikiran ini merupakan hasil refleksi kami terhadap situasi kebangsaan nasional. Sebagai organisasi mahasiswa yang berciri intelektual, IMM harus mengambil peran signifikan dalam menjawab persoalan-persoalan krusial bangsa,” ujarnya.

Zaki menjelaskan, rumusan delapan pokok pemikiran tersebut merupakan hasil sintesis dari rangkaian diskusi mendalam di sidang pleno dan komisi, yang diikuti oleh perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM dari seluruh Indonesia. Dokumen ini diharapkan menjadi panduan gerakan dan kompas moral bagi kader IMM di masa mendatang.

Berikut ringkasan 8 Pokok Pemikiran Tanwir XXXIII IMM:

1. Meneguhkan Gerakan Intelektual yang Membela Rakyat.
IMM menegaskan bahwa tugas kader bukan hanya berhenti pada tataran ide di ruang akademik, melainkan juga hadir di tengah rakyat. Kader diharapkan turun langsung membela petani, buruh, nelayan, serta kelompok masyarakat yang terpinggirkan akibat ketimpangan ekonomi. Semangat keilmuan dihidupkan kembali sebagai sarana pembebasan, bukan sekadar simbol prestise akademik.

2. Mendorong Reformasi Politik dan Regenerasi Kepemimpinan Nasional.
IMM menyerukan pembatasan usia maksimal bagi calon anggota legislatif dan pejabat publik agar ruang politik lebih terbuka bagi generasi muda. Negara perlu memberi tempat bagi pemimpin muda yang visioner, berintegritas, dan berani membawa perubahan.

3. Mengawal DPR dan Kebijakan Publik yang Pro-Rakyat.
IMM menilai reformasi lembaga legislatif sangat penting. Transparansi, keterbukaan informasi, dan akuntabilitas politik menjadi keharusan agar DPR benar-benar menjadi representasi rakyat, bukan sekadar arena kompromi kepentingan politik.

4. Krisis Iklim, Ekonomi Ekstraktif, dan Keadilan Ekologis.
IMM menyoroti krisis iklim sebagai ancaman serius bagi keberlanjutan bangsa. Organisasi ini menolak praktik politik tambang yang merusak ruang hidup rakyat, serta mendorong pemerintah menempatkan isu iklim sebagai agenda prioritas nasional. IMM juga menginisiasi gerakan hijau di internal organisasi dan kampus.

5. Keadilan Ekonomi dan Pembelaan terhadap Rakyat Tertinggal.
IMM mendorong redistribusi sumber daya nasional dan memperkuat ekonomi rakyat berbasis koperasi, UMKM, serta komunitas mahasiswa produktif. Kolaborasi dengan amal usaha Muhammadiyah diharapkan menjadi kekuatan pemberdayaan masyarakat, bukan hanya lembaga pendidikan dan kesehatan.

6. Independensi Lembaga Negara dan Politik Etika.
IMM menegaskan pentingnya menjaga independensi lembaga penegak hukum dan institusi publik. Polri, KPK, dan lembaga yudikatif harus bebas dari intervensi politik. IMM juga menempatkan diri di garis depan dalam membela kebebasan berpendapat, transparansi publik, dan etika politik yang berkeadaban.

7. Literasi Digital, Etika Publik, dan Kedaulatan Informasi.
IMM melihat dunia digital sebagai ruang baru perjuangan nilai. Organisasi ini menyerukan peningkatan literasi digital di kalangan muda serta mengingatkan pemerintah agar tidak menggunakan kebijakan siber untuk membungkam kritik. IMM juga menekankan pentingnya perlindungan data pribadi dan kedaulatan informasi publik sebagai bagian dari hak asasi warga negara.

8. Memperluas Peran Pemuda dan Menyatukan Gerakan Moral Bangsa.
IMM meyakini bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang berani mengambil peran strategis. Karena itu, IMM mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat sipil untuk membangun koalisi moral yang menolak politik transaksional, memperjuangkan keadilan ekonomi, dan memastikan arah pembangunan yang berkelanjutan.

Dengan keluarnya delapan pokok pemikiran ini, IMM berharap dapat memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Forum Tanwir XXXIII di Malang pun menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali jati diri IMM sebagai gerakan intelektual, moral, dan sosial yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan. (ahmad ashim muttaqin)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search