Masjid Al Insan lantai III RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menggelar pengajian rutin bulanan pada Ahad (8/2/2026). Kegiatan ini menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi serta pembinaan spiritual dan mental bagi para pegawai, sehingga terbentuk karakter yang baik, meningkatkan ketenangan batin, moral, dan etika kerja.
Pengajian kali ini menghadirkan Ustadz H. M. Zuhri, S.HI., M.Pd.I., selaku Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Tengah yang membidangi Tarjih dan Tajdid. Tema yang diangkat adalah “Pahami Fiqih Puasa, Capai Ibadah yang Maksimal di Bulan Ramadhan.”
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Utama RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya, dr. Lia Indriana; Direktur Pelayanan dan Penunjang Medis, dr. Widya Dewi Jayanti; para dokter spesialis; manajer; kepala ruangan; serta seluruh pegawai rumah sakit. Sekitar 300 peserta memadati ruang Masjid Al Insan.
Dalam sambutannya, dr. Lia Indriana menyampaikan rasa syukur sekaligus menegaskan komitmen rumah sakit dalam pembinaan keislaman bagi para pegawai. Ia menuturkan bahwa Muhammadiyah mendirikan rumah sakit tidak hanya sebagai sarana pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai media dakwah, khususnya di bidang sosial dan kesehatan.
Menurutnya, pendalaman Al-Islam dan ke-Muhammadiyahan harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti melalui pelaksanaan salat berjamaah, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Terlebih pada bulan Ramadan tahun ini, pihak rumah sakit memfasilitasi berbagai kegiatan ibadah bagi pegawai, di antaranya penyediaan makan berbuka puasa dan sahur, kegiatan khataman Al-Qur’an, shalat tarawih berjamaah, serta i’tikaf.
“Komitmen kita harus meningkatkan Al-Islam dan ke-Muhammadiyahan sehingga apa yang kita lakukan dengan niat ikhlas berbuah pahala oleh Allah SWT, bukan hanya bekerja yang kita lakukan tapi juga mencari rida-Nya, sehingga kita selamat dunia dan akhirat, apalagi di bulan Ramadan yang ganjaran pahalanya dilipat gandakan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, dr. Lia juga mengajak seluruh pegawai RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya serta warga Muhammadiyah untuk memaknai datangnya bulan suci Ramadan secara lebih istimewa, sekaligus memperkuat nilai kejujuran, kesabaran, dan ukhuwah.
Ia menegaskan bahwa seluruh ibadah yang dilakukan dengan benar oleh setiap muslim tidak hanya mendatangkan kedamaian dan kemanfaatan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain, bahkan bagi umat lain. Dalam Islam terdapat lima fondasi utama yang dikenal sebagai rukun Islam, yaitu syahadat, shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadan, dan ibadah haji bagi yang mampu. Kelima fondasi tersebut menjadi dasar yang kokoh bagi kehidupan seorang muslim dalam mencapai ridho Allah SWT.
Dalam tausiyahnya, Ustadz H. M. Zuhri mengingatkan bahwa Ramadan yang datang setiap tahun berpotensi menjadi rutinitas belaka apabila tidak dimaknai secara mendalam. “Oleh karena itu, kegiatan tarhib Ramadan di RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya menjadi penting sebagai sarana menyambut bulan suci dengan kesadaran dan kesiapan spiritual yang lebih mendalam,” ujar Zuhri.
Ia menekankan bahwa Ramadan seharusnya diperlakukan sebagai anugerah yang disambut dengan kegembiraan, bukan dianggap sebagai beban. Dengan sikap tersebut, umat Islam dapat menjadikan bulan suci sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah sekaligus pembaruan diri. “Sambut Ramadan dengan penuh suka cita, siapa tahu Ramadan kali ini adalah Ramadan terakhir kita,” tambahnya.
Ustadz Zuhri menjelaskan bahwa ibadah Ramadan merupakan sarana untuk mengondisikan setiap muslim agar mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Salah satu indikator ber-Islam secara kaffah adalah tercermin dalam akhlak mulia (akhlaqul karimah).
Ia menegaskan bahwa ibadah Ramadan tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Setiap muslim, khususnya warga Muhammadiyah, dituntut untuk membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat buruk, sehingga terpancar kepribadian yang saleh dan menghadirkan kedamaian serta kemanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.
Untuk membentuk kepribadian yang saleh tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan selama Ramadhan, seperti melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, mengikuti majelis taklim, memperbanyak tadarus Al-Qur’an baik secara individu maupun bersama-sama, meningkatkan sedekah, serta menunaikan zakat fitri bagi yang mampu.
Amalan yang Membatalkan Pahala Puasa
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, terdapat sejumlah amalan yang dapat membatalkan pahala puasa. Di antaranya adalah berkata atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti berbohong, memfitnah, menipu, berkata kotor, mencaci maki, membuat kegaduhan, mengganggu orang lain, berkelahi, serta berbagai perbuatan tercela lainnya.
Memfitnah dan berbohong merupakan perbuatan yang sangat dilarang bagi seorang muslim, terlebih ketika sedang berpuasa. Apabila hal tersebut dilakukan, maka puasa yang dijalankan tidak bernilai pahala. Perlu dipahami bahwa larangan memfitnah dan berbohong tidak hanya berlaku bagi orang yang berpuasa, tetapi juga bagi setiap muslim dalam kondisi apa pun.
“Muslim yang berpuasa, tetapi berdusta dan tidak meninggalkan perbuatan buruk, puasanya tidak diperhitungkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hanya memperoleh lapar dan haus,” ujarnya.
Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam apabila ajarannya diamalkan secara kaffah oleh para pemeluknya. Apabila seluruh amalan wajib dan sunnah selama Ramadhan dilaksanakan dengan benar, serta segala perbuatan yang membatalkan pahala puasa ditinggalkan, maka kedamaian dan kemanfaatan akan terwujud, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. (muhammad fitriani – kontributor Kalteng)
