Tariq bin Ziyad dan Kyai Dawam Shaleh: Refleksi Menumbuhkan Semangat Berjuang

Tariq bin Ziyad dan Kyai Dawam Shaleh: Refleksi Menumbuhkan Semangat Berjuang
*) Oleh : Chandra Aditya
‎Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri
www.majelistabligh.id -

‎Pemuda itu bernama Thariq bin Ziyad. Namanya tercatat dalam sejarah bukan sekadar sebagai panglima perang Bani Umayyah, tetapi sebagai simbol keberanian, keyakinan, dan tekad yang tidak mengenal jalan mundur. Kisahnya terus hidup lintas generasi, menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang ingin berjuang melampaui keterbatasan.

Semangat itulah yang bahkan bergaung dalam kisah seorang ulama sederhana di Nusantara, KH. M Dawam Shaleh, seorang anak sopir yang berani bermimpi besar mendirikan pesantren sebagai pusat perjuangan dan pencerahan umat.

‎Dalam buku K.H. M. Dawam Shaleh: Anak Sopir yang Mendirikan Pesantren karya A. Rhaien Subakrun, dituliskan bagaimana kuatnya tekad sang kiai dalam mewujudkan cita-citanya. Ia menggambarkan perjuangannya seperti kisah heroik Thariq bin Ziyad saat menaklukkan Eropa. Bagi beliau, mendirikan pesantren bukanlah proyek biasa, melainkan perjuangan peradaban yang menuntut keyakinan penuh, pengorbanan, dan keberanian melawan rasa takut akan kegagalan.

‎Sejarah mencatat bahwa pada tahun 711 M, Thariq bin Ziyad diutus memimpin pasukan menyeberangi lautan menuju daratan Eropa. Setelah mendarat di sebuah bukit karang yang kini dikenal sebagai Gibraltar, ia mengumpulkan pasukannya dan mengambil keputusan monumental: memerintahkan pembakaran seluruh kapal yang mereka gunakan.

Dengan pedang terhunus dan suara yang menggugah jiwa, Thariq menyatakan bahwa mereka datang bukan untuk kembali. Di hadapan mereka hanya ada dua pilihan, menaklukkan negeri itu dan membangun kehidupan baru, atau binasa dengan kehormatan.

‎Pidato Thariq bin Ziyad yang terkenal, tentang laut di belakang dan musuh di depan, bukan sekadar strategi militer, melainkan pembentukan mental pejuang. Ia menanamkan kesadaran bahwa perjuangan besar tidak bisa dijalani dengan keraguan.

Dari tekad itulah lahir keberanian kolektif, hingga akhirnya pasukan Muslim berhasil mengalahkan Raja Roderick dan menguasai wilayah selatan Eropa. Andalusia kemudian tumbuh menjadi pusat ilmu pengetahuan, peradaban, dan toleransi yang memberi kontribusi besar bagi dunia.

‎Semangat yang sama tercermin dalam perjalanan hidup KH. M Dawam Shaleh. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas dan latar belakang sosial yang sederhana, beliau berani “membakar kapal” keraguannya sendiri. Tidak ada jaminan keberhasilan, tidak ada modal besar, kecuali keyakinan kepada Allah dan tekad untuk berkhidmat kepada umat. Pesantren yang kemudian berdiri menjadi bukti bahwa perjuangan yang dilandasi keikhlasan dan kesungguhan akan melahirkan perubahan nyata.

‎Dari dua kisah ini, generasi muda diajak untuk bercermin. Perjuangan hari ini memang tidak lagi berupa perang fisik, tetapi medan yang dihadapi justru lebih kompleks: persaingan global, arus informasi tanpa batas, dominasi teknologi, dan krisis moral.

Dalam banyak aspek, umat Islam sering berada pada posisi tertinggal, menjadi konsumen peradaban, bukan produsen. Ini bukan karena Islam miskin ajaran, tetapi karena semangat berjuang dan budaya unggul belum sepenuhnya tumbuh di kalangan umat, khususnya generasi mudanya.

‎Kisah Thariq bin Ziyad mengajarkan bahwa Islam tidak diturunkan untuk menjadikan pemeluknya lemah dan pasrah. Islam pernah memimpin peradaban dunia karena umatnya memadukan iman dengan ilmu, akhlak dengan kecerdasan, serta doa dengan kerja keras.

Generasi muda Islam hari ini harus berani menyalakan kembali semangat itu, dengan tekad menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan budaya, tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

‎“Membakar kapal” di era modern bukan berarti tindakan nekat, melainkan keberanian meninggalkan mentalitas instan, malas, dan rendah diri. Ia berarti komitmen total untuk belajar dengan serius, bekerja secara profesional, dan berjuang dengan integritas. Tidak ada peradaban besar yang dibangun oleh generasi yang ragu pada dirinya sendiri dan takut menghadapi tantangan.

‎Akhirnya, kisah Thariq bin Ziyad dan K.H. M. Dawam Shaleh menyatu dalam satu pesan moral yang kuat: perubahan besar selalu dimulai dari keyakinan yang kokoh dan langkah berani. Generasi muda Islam dipanggil untuk menjadi subjek sejarah, bukan sekadar objek.

Dengan iman sebagai fondasi dan ilmu sebagai senjata, umat Islam tidak seharusnya terus berada di pinggir peradaban. Masa depan dunia menanti keberanian generasi mudanya untuk melangkah maju dan kembali menghadirkan Islam sebagai rahmat dan kekuatan peradaban yang bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Search