Tauhid: Fondasi Keyakinan Umat Islam

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Agus Priyadi, S.Pd.I.

Tauhid dalam Islam merupakan prinsip dasar yang melandasi semua aktivitas manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Tauhid berarti meng-esa-kan Allah SWT dan tidak menyekutukan dengan selain-Nya. Tauhid diformulasikan dengan kalimat toyyibah “la ilaaha illallah”, tiada Tuhan selain Allah SWT. Allah SWT sebagai sang pencipta yang awal dan abadi ketika kehidupan ini telah tiada. Allah SWT sebagai sumber kehidupan dan muara dari segala tujuan hidup manusia.

Konsepsi tauhid dalam Islam adalah inti ajaran yang mutlak harus ada pada jiwa umatnya sebagai pondasi terhadap segala bentuk keyakinan selain Allah SWT. Tauhid yang kuat menjadikan umat Islam kokoh dalam memegang prinsip-prinsip ajaran Islam sebagai sistem nilai yang membentengi diri dari segala bentuk penyimpangan.

Kekuatan tauhid ini menjadi dasar bagi umat Islam dalam membangun peradaban. Peradaban Islam bersumber pada tauhid dan nilai-nilai agama Islam, dengan demikian peradaban yang dibagun umat Islam berbeda dengan peradaban yang dibagun dunia Barat. Dalam Islam, “ruh” peradaban terletak pada tauhid. Sedangkan di Barat, “ruh” peradabannya adalah materialisme.

Perlu kita ketahui bahwa pada dasarnya manusia dari sejak lahir berada dalam fitrahnya yaitu, bertauhid. Namun seiring perjalanan waktu, fitrah tersebut sangat dipengaruhi oleh orang tuanya. Dalam hal ini, kefitrahan tersebut sesuai perkembangan lingkungan dan orang tuanyalah yang menentukan selanjutnya. Apakah ia tetap pada fitrahnya atau berubah menjadi Kristen, Yahudi atau Majusi.

Hal ini sebagaimana disinyalir oleh Nabi SAW: “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (HR. Bukhori).

Hadis ini menjelaskan bahwa tauhid sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia berada. Lingkungan yang paling berperan adalah lingkungan keluarga yaitu orang tua. Orang tua turut berperan besar dalam mempertahankan tauhid anaknya dari segala keyakinan agama lainnya.

Bila kita cermati dengan baik, akhir-akhir ini banyak orang yang beriman namun tanpa didasari pengetahuan yang memadai. Mereka beribadah namun ada saja yang masih menyimpang dari ketauhidannya. Apalagi mereka yang berada di penjuru kampung yang masih banyak mempercayai pohon-pohon yang besar, batu-batuan yang besar, dan lain sebagainya. Bahkan di zaman modern seperti saat ini, banyak fenomena orang yang mengotori tauhidnya dengan berbagai peyimpangan seperti tenung, sihir, para normal dan lain sebagainya.

Tujuan mereka supaya hidupnya menjadi terkenal, kaya dan popular. Penyimpangan seperti ini kerap terjadi disebabkan lemahnya aqidah Islam dalam jiwanya sehingga tidak kuat menghadapi tekanan hidup yang meterialis – hedonis. Akibatnya mereka banyak melakukan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid tersebut.

Dalam ajaran Islam, tauhid adalah sesuatu yang bersifat fundamental, prinsip dan bersifat mutlak. Tauhid merupakan inti ajaran Islam yang diemban oleh para nabi dalam dakwahnya. Maka tidak diragukan lagi bahwasanya tauhid merupakan hal yang sangat urgen bagi manusia.

Bahkan tauhid merupakan penentu selamat dan tidaknya manusia dari api neraka. Maka dari itu, seseorang yang menginginkan dirinya selamat dari api neraka, ia harus mengimplementasikan tauhid dalam kehidupan sehari-hari.

Urgensi Tauhid bagi Umat Islam

Mengutip laman ilmutauhid.wordpress.com, para ulama telah menjelaskan kepada kita tentang urgensi tauhid bagi umat Islam, diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia oleh Allah SWT. (QS. Ad Dzaariyat: 56). Ayat ini menyebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyembah Allah SWT.
  2. Tauhid merupakan inti dakwah para rasul. Mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW, misi dakwahnya adalah sama yakni tentang tauhid. Mengenai hal ini sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nahl ayat 36, dan QS. al Anbiya ayat 25.
  3. Semua nabi mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW, mengajar dan memimpin umat, untuk meyakinkan bahwa yang menjadikan alam atau pencipta alam semesta ini adalah Tunggal, Esa, yaitu Allah SWT. Demikianlah adanya garis lurus sejak Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad SAW yang meyakini dan memercayai suatu keyakinan dan kepercayaan yang tunggal tentang sifat dan zat pencipta alam yaitu Allah SWT.
  4. Tauhid merupakan hal pertama yang diperintahkan oleh Allah kepada hambanya sebelum kewajiban lainnya. Terkait dengan hal ini lebih lanjut dijelaskan dalam QS. al Isra` Ayat 23.
  5. Tauhid adalah hak Allah atas hambanya.
  6. Tauhid merupakan tugas seorang muslim sepanjang hidupnya. Dari lahir manusia berada dalam keadaan fitrah, suci (tauhid), dengan demikian, manusia berkewajiban menjaganya untuk tetap berada dalam kesucian bahkan hingga saat kematian untuk tetap dalam keadaan suci (bertauhid).

Selain itu, tauhid juga berpengaruh pada jiwa manusia. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh TM. Hasbi Ash. Shiddieqy sebagai berikut :

  1. Manusia yang benar-benar mengikuti ke-Esa-an Tuhan, mempunyai kepercayaan bahwa Tuhan sendirilah yang memiliki alam ini yang memberi rizki, yang memberi hidup dan mematikan.
  2. Manusia yang mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal mempunyai jiwa besar, kemuliaan diri dan meyakini bahwa Allah Tuhan yang dapat memberi madharat dan manfaat.
  3. Di samping itu manusia juga berjiwa tawadhu’, rendah hati dan tidak pantas bersifat sombong, takabur dan pongah.
  4. Manusia beriman meyakini bahwa Allah Maha Esa, tentulah meyakini bahwa jalan memperoleh kemenangan adalah bershaleh jiwa dan mengerjakan amal sh
  5. Manusia beriman bahwasannya Allah Maha Esa, mempunyai keimanan yang teguh mempunyai keberanian, kesabaran, ketetapan hati, serta senantiasa menyerahkan diri kepada Allah SWT.
  6. Orang beriman tidak dengki, tidak berperangai rendah ia selalu bersifat ramah, dan tidak berputus asa.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tauhid merupakan pondasi keyakinan bagi umat Islam terhadap Allah SWT. Oleh karenanya umat Islam dituntut untuk memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT sehingga tidak terkontaminasi dengan keyakinan lain selain hanya kepada Allah SWT.

Tauhid tersebut memiliki urgensi dalam kehidupan umat Islam terutama agar hidupnya selamat dunia dan akherat serta terhindar dari siksa api neraka. Tauhid juga memiliki pengaruh terhadap jiwa umat Islam. Bahwa dengan tauhid yang terpatri dalam jiwa, umat Islam akan memiliki sifat yang rendah hati, tidak sombong, ramah, tidak berputus asa dan lain-lain. Sebab hidupnya sepenuhnya diserahkan kepada Allah SWT. (*)

 

*) Penulis adalah anggota KMM PDM Banjarnegara dan Santri Sekolah Tabligh PWM Jateng di Banjarnegara.

Tinggalkan Balasan

Search