*)Oleh: Husnul Khuluq, M.Pd.
Ketua PRM Sukomulyo & Anggota Majlis Tabligh PCM Manyar
Tauhid yang berarti mengesakan Allah merupakan suatu kekuatan dalam akidah. Jika Allah menjadi satu satunya jalan akidah dan keimanan, juga menjadi satu titik untuk bersandar, maka sungguh akan menjadi kekuatan yang mega dahsyat dalam hidup.
Ungkapan “Tauhid itu mega dahsyat” mungkin merujuk pada keyakinan bahwa ajaran tauhid, yaitu mengesakan Allah, memiliki kekuatan dan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang Muslim. Hal ini karena tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi juga menjadi dasar bagi seluruh aspek kehidupan seorang Muslim.
Berikut beberapa poin yang bisa menjelaskan ungkapan tersebut:
* Tauhid itu meng-Esakan Allah dengan menekankan bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan segala sesuatu berasal dari-Nya. Keyakinan ini menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan hanya menyembah-Nya. firman Allah SWT :
اِنَّنِىۡۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَاعۡبُدۡنِىۡ ۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكۡرِىۡ
Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS .Thoha :14).
Dalam ayat tersebut Allah tegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT. maka sembahlah Allah, satu satunya tempat menghamba dan beribadah adalah Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa.
Ketahuilah bahwa Allah adalah Tuhanmu, dan sungguh tidak ada tuhan pencipta alam raya yang layak disembah selain Allah, maka berimanlah kepada Allah, sembahlah Allah, dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya.” Inilah prinsip pertama akidah, yaitu keesaan Tuhan.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa wahyu yang utama dan yang disampaikan ialah bahwa tiada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, untuk menanamkan rasa tauhid, mengesakan Allah, memantapkan pengakuan yang disertai dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Oleh karena itu hanya Dialah satu-satunya yang wajib disembah, ditaati peraturan-peraturan-Nya.
Tauhid ini adalah pokok dari segala yang pokok, dan tauhid ini juga merupakan kewajiban pertama dan harus diajarkan lebih dahulu kepada manusia, sebelum pelajaran-pelajaran agama yang lain. Pada akhir ayat ini Allah menekankan supaya shalat didirikan.
Tentunya salat yang sesuai dengan perintah-Nya, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, untuk mengingat Allah dan berdoa memohon kepada-Nya dengan penuh ikhlas. Shalat disebut di sini secara khusus, untuk menunjukkan keutamaan ibadah shalat itu dibanding dengan ibadah-ibadah wajib yang lain, seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain.
Keutamaan ibadah salat itu antara lain ialah apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan rukun yang telah ditetapkan untuknya, ia akan mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya: “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al ankabut: 45).
Tauhid itu merupakan energi spiritual, beberapa orang mengartikan tauhid sebagai energi spiritual yang kuat, yang memberikan kekuatan dan motivasi dalam menjalani hidup. Ketika seseorang meyakini dan mengamalkan tauhid, ia akan merasa lebih tenang, fokus, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.
Energi spiritual adalah kekuatan internal yang muncul dari keyakinan, nilai-nilai, dan spiritualitas seseorang. Dalam konteks tauhid, energi spiritual ini bersumber dari keyakinan yang kuat pada Allah dan ajaran-Nya. Energi spiritual ini yang melandasi pada setiap langkah dalam kehidupan, energi ini merupakan energi yang sangat dahsyat dalam mengendalikan hidup seseorang, semua hidupnya dipasrahkan hanya kepada Allah dan akan selalu mengingat Allah dalam setiap tindakan nya.
Orang yang memiliki tauhid yang kuat tidak mudah untuk melakukan hal hal yang menyekutukan Allah (musyrik), tidak mudah untuk terjerumus dalam kemunkaran dan kemaksiatan, tauhid nya akan berfungsi sebagai filter terhadap hal hal yang merusak keimanan.
Orang yang bertauhid dengan baik adalah mereka yang meyakini keesaan Allah (tauhid) pada seluruh aspek kehidupan, baik dalam keyakinan, ibadah, maupun prilaku. Mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah, menjauhi perbuatan syirik, dan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
Orang yang bertauhid dengan baik memiliki kontrol yang sensitive karena tahu bahwa apapun yang dilakukan pasti Allah meliputinya atau mengawasinya, sebagaimana firman Allah :
إنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رقيباً
“Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian” (QS an-Nisaa’:1).
وكان اللهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيْباً
“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu” (QS.al-Ahzab:52)
وكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْداً ما دُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ، وأنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٍ
“Dan akulah yang menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah Yang Maha Mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu” (QS.al-Maidah:117).
Dan juga orang yang bertauhid dengan baik pasti memahami bahwa semua yang dilakukan pasti pada masa nya Allah akan memanggilnya dan mengumpulkanya serta mempertanggung jawabkan semua yang dilakukan, sebagaimana firman Allah:
این ما تکونوا یأت بکم الله جمیعا إن الله علی کل شیٸ قدیر
Dimanapun kamu berada, Allah pasti akan mengumpulkanmu semua, sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu (QS. Al baqarah: 148).
Orang yang bertauhid dengan baik memiliki sensitifitas yang tinggi bahwa hidupnya diawasi oleh Allah sehingga dalam bekerja dan beraktifitas dalam hidup terdapat jiwa atau ruh yang menggerakkan niat dan langkahnya semata karena ibadah (lillahi ta´ala). (*)
