Banyak pemahaman miring di tengah masyarakat, bahwa teater atau drama adalah seni berbohong. Semakin pandai bermain drama semakin licik dalam dunia nyata. Teater seakan mengajarkan kepura-puraan untuk bisa berseribu wajah dalam bermasyarakat. Maka sering kita temukan ungkapan menasihati orang yang suka berbohong dan berpura-pura dengan kalimat jangan mendramatisir.
Teater itu kayak jembatan yang menghubungkan kita dengan perasaan dan pengalaman orang lain. Lewat teater, kita bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh yang kita perankan, atau yang kita tonton di atas panggung, dan itu bisa membuat kita lebih empati.
Empati itu penting, kita bisa memahami perasaan orang lain, memahami perspektif mereka, dan menjadi lebih baik dalam berinteraksi.
Selaras dengan nasihat kanjeng Nabi,
“لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di teater, kita bisa lihat gimana tokoh-tokohnya menghadapi tantangan, merasakan kesedihan, kebahagiaan, dan lain-lain. Dan itu bisa membuat kita lebih peka terhadap perasaan orang lain.
Sebagaimana ungkapan WS Rendra bahwa “Teater adalah cermin masyarakat, dan kita harus berani menunjukkan kebenaran.” Kalimat ini menunjukkan teater akan mengajarkan menerima realitas hidup ini sebagai kebenaran yang harus diperjuangan. Dalam agama realitas hidup itu adalah mengabdi pada Tuhan dan berinteraksi dengan seluruh makhluk di sekitarnya dengan saling memahami kodrat masing-masing.
Untuk bisa memahami kebenaran hidup tentu kita harus faham tentang diri pribadi sendiri sebagaimana nasihat tokoh legendaris teater, Konstantin Stanislavski. “Jadilah dirimu sendiri, karena di dunia ini tidak ada yang bisa menjadi kamu sebaik kamu sendiri.” Kalimat tersebut selaras dengan ungkapan Arab yang diriwayatkan oleh Imam Al-Ghazali, yaitu:
“من عرف نفسه فقد عرف ربّه”
“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Teater tidak sekedar akting di atas panggung, lebih dari itu, teater merupakan jalan untuk mengenali diri, mengabdi pada Tuhan dengan menjadi khalifaNya. Berempati pada sesama makhluk dengan menjaga dan menata semesta hidup sesuai dengan potensi dan peran masing-masing. (*)
