“Honesty is a reflection of a person’s character”
“(Kejujuran adalah cerminan dari karakter seseorang)”
Setiap ucapan, tindakan, dan prinsip hidup yang kita yakini mustahil akan mendapatkan persetujuan dari semua orang. Ini adalah realitas kehidupan yang harus kita terima. Bahkan, Nabi Muhammad SAW, yang merupakan manusia termulia dan pembawa kebenaran hakiki, masih menghadapi celaan, keraguan, dan penentangan dari kaumnya. Lantas, bagaimana mungkin kita yang bukan siapa-siapa berharap seluruh dunia membenarkan setiap langkah kita?
Jangan biarkan lisan orang lain menggeser prinsip kebenaran yang sudah tertanam kuat di hati. Sebab, fokus utama kita bukanlah mencari rida manusia, melainkan rida Allah SWT.
Ketika Anda berada di atas kebenaran, kuncinya adalah istiqamah (keteguhan). Allah SWT berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (Qs. Al-Ahqaf: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mengatakan Tuhan mereka adalah Allah lalu tetap istikamah (berpegang teguh pada pendirian) tidak akan merasa takut akan masa depan dan tidak akan bersedih hati, karena merekalah penghuni surga kekal sebagai balasan atas perbuatan baik mereka.
Rasulullah SAW juga bersabda,
عن سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قال: قلت: يارسول الله! قل لي في الاسلام قولا, لا أسأل عنه أحدا غيرك؟. قال: “قل آمنت بالله ثم استقم” (رواه مسلم)
Artinya:
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ lalu beristikamahlah.” (HR. Muslim No. 38)
Maka, teguhkan pendirian, jalani kebenaran dengan ikhlas, dan biarkan penilaian manusia menjadi urusan sampingan. Fokuskan energi pada keridaan-Nya, bukan pada kesepakatan semua orang.
Semoga bermanfaat.
