Nabi Ibrahim bukan hanya simbol manusia tertinggi dalam mentauhidkan Allah, tetapi sebagai contoh manusia yang menyerahkan hidupnya secara total kepada Allah. Maka tepat apabila Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai manusia yang beragama Islam secara sempurna. Itulah shibghah (celupan) Allah sebagai cara beragama paling mulia.
Millah Ibrahim
Beragama secara totalitas berarti menghambakan diri kepada Allah. Semua amal ibadahnya semata-mata karena -Nya. Bukan karena dorongan atau motif duniawi. Mengikhlaskan diri dalam beribadah merupakan puncak beragama yang dicontohkan Nabi Ibrahim sebagai seorang hamba. Ini merupakan jalan terbaik yang seharusnya dilakukan manusia.
Nabi Ibrahim menjalani hidup sesuai perintah Allah. Mendakwahkan tauhid, telah dilakukan ketika menghadapi kaumnya yang semuanya menyembah berhala. Bahkan dakwah pertama disampaikan kepada bapaknya. Hal itu dilakukan ketika usia muda hingga akhirnya harus terusir dari kampung halamannya. Perintah menjalankan perintah Allah dilakukan dengan sempurna.
Ketika Allah memerintahkan untuk meninggalkan anak istrinya di lembah tandus, menjadi catatan sejarah. Hingga nantinya muncul sumur zam-zam yang saat ini bisa dinikmati kaum muslimin yang melakukan ibadah haji atau umrah. Demikian juga ketika datang perintah menyembelih putra tersayangnya, Ismail dijalankan secara sempurna.
Beberapa kisah di atas merupakan cara beragama yang sempurna, dan hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّا تَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَا تَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-(Nya).” (QS. An-Nisa’ : 125)
Nabi Ibrahim dijadikan Allah sebagai manusia yang sempurna dan lurus dalam beragama.
Shibghah
Nabi Ibrahim merupakan manusia yang mengalami celupan (shibghah) Allah sehingga tidak ada bandingannya dengan yang lain. Allah memuji cara beragama tanpa ada cara lain yang lebih baik. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
صِبْغَةَ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً ۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ
Artinya: “Sibgah Allah”. Siapa yang lebih baik Sibgahnya daripada Allah? Dan kepada-Nya kami menyembah.” (QS. Al-Baqarah : 138)
Bagaimana dengan manusia sekarang ketika tantangan berat ada di hadapannya yang berpotensi besar dalam memalingkan peribadatan kepada selain Allah. Kepentingan duniawi telah merangsek masuk dalam kehidupan manusia saat ini sehingga sulit keluar dari kepentingan duniawi serta menyingkirkan kepentingan akhirat.
Oleh karenanya, Nabi Ibrahim layak dijadikan teladan bagi manusia yang ingin mememalingkan kehidupan yang dipenuhi dengan kepentingan yang merusak agamanya. Mudah meninggalkan shalat, tidak mengindahkan nilai-nilai Al-Qur’an sehingga mudah melakukan kemaksiatan seperti korupsi, menipu, hingga pemecahbelah dalam beragama serta menjadi tokoh penting tauhid.
Dengan mengikuti contoh Nabi Ibrahim, dalam penyerahan kepada Allah. Nabi Ibrahim memberi contoh beragama secara ikhlas dalam menjalankan agama, hanya mengharapkan ridha-Nya. Fokus pada kepentingan akhirat tidak harus meninggalkan dunia. Tetapi dunia dijadikan sarana untuk menanamkan nilai-nilai akhirat.
Dalam konteks ini, kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim yang meninggalkan anak istrinya di lembah tandus, namun tetap percaya bahwa Allah akan menjaga mereka. Kita juga dapat mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim yang menyembelih putra tersayangnya, Ismail, sebagai bukti ketaatannya kepada Allah.
Dengan demikian, kita dapat menjadi manusia yang mukhlis, yang hanya mengharapkan ridha Allah dalam setiap amal ibadah kita. Kita dapat meningkatkan iman dan kualitas hidup kita, dan menjadi teladan bagi orang lain.
Makkah, 24 Maret 2026
