Tenang dengan Memaafkan

Tenang dengan Memaafkan
*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Memaafkan tanpa sisa. Banyak orang berkata, “Aku memaafkan, tapi aku tidak bisa melupakan.”

Kalimat itu terdengar bijak, namun sesungguhnya menyimpan bara yang masih menyala. Sebab ketika hati masih menggenggam memori kepedihan, itu bukanlah maaf yang utuh, melainkan dendam yang diam-diam dipelihara.

Kita sering mengira bahwa memaafkan cukup dengan mengucapkannya di bibir. Namun, memaafkan sejatinya adalah melepaskan beban di dada hingga tak ada lagi sisa getir yang mengikat.

Selama bayangan masa lalu masih mengusik, selama luka itu masih terasa saat diingat, berarti kita belum benar-benar bebas.

Penghuni surga tidak membawa dendam. Mereka tidak memperkenankan kebahagiannya tergores oleh pedih yang pernah singgah. Sebab, kebahagiaan yang murni hanya mungkin hadir di hati yang telah bersih dari racun kebencian.

Bayangkan, betapa tenangnya jiwa yang mampu memaafkan hingga tak tersisa sedikit pun bekas luka. Tidak ada lagi ruang untuk balas dendam, tidak ada lagi rasa ingin membalas sakit hati, yang ada hanyalah kedamaian yang tak ternilai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

” ...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS Ali ‘Imran : 134)

Karena pada akhirnya, memaafkan sepenuhnya bukan hanya membebaskan orang lain dari kesalahan, tetapi juga membebaskan diri kita dari penjara masa lalu.

Karena itu, jika Anda masih berkata, “Aku sudah memaafkan, tapi sulit melupakan,” tanyakan pada hati Anda–apakahAnda benar-benar memaafkan, atau hanya pandai menyembunyikan dendam?

Semoga bermanfaat buat kita semua, barakallahu fiikum. (*)

Tinggalkan Balasan

Search