Tenangkan Dirimu dengan Salat

Tenangkan Dirimu dengan Salat
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Guru SMA Muhammadiyah I Sumenep, Pembina Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep
www.majelistabligh.id -

Sebuah pertanyaan menggelitik kita, “Sudah berapa kali kita melakukan salat dan sejauh mana kita merasakan ketenangan dengannya?” Sulit menjawabnya, karena salat kita tidak berbanding lurus dengan ketenangan hati dan jiwa kita. Bersyukur bisa menjalankan kewajiban salat setiap waktu. Butuh proses dan perlu selalu belajar untuk sampai pada maqam ketenangan.

Kita sendiri diperintahkan oleh Allah untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui salat.
Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Karenanya, shalat menjadi media untuk menyelesaikan masalah.

Dalam beberapa kesempatan, jika Rasulullah ditimpa sebuah ketakutan, maka dia akan segera melakukan salat. Pernah dia berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, tentramkan [hati] kita dengan salat! Pada kali yang lain beliau bersabda, “Ketenanganku ada pada salat.”

Jika hati terasa menyesak, masalah yang dihadapi terasa sangat rumit, dan tipu muslihat sangat banyak, maka bersegaralah datang ke tempat salat, dan salatlah.
Jika hari-hari menjadi gelap gulita, malam-malam mencekam, dan kawan-kawan berpaling, maka lakukanlah salat.
Dalam berbagai urusan yang sangat penting Rasulullah selalu melapangkan hatinya dengan melakukan salat.

Misalnya, pada saat perang Badar, Ahzab (Khandaq), dan kesempatan-kesempatan yang lain. Diriwayatkan dari al-Hafizh ibn Hajar penulis Fathul Bâri, bahwa suatu hari dia pergi ke sebuah benteng di Mesir. Di tengah jalan, dia dikepung oleh segerombolan pencuri. Seketika itu juga ia berdiri untuk melakukan salat. Dan, Allah pun memberikan jalan keluar kepadanya.

Ibn ‘Asakir dan Ibn Qayyim al-Jauziyah bercerita bahwa seorang laki-laki salih pernah bertemu dengan seorang perampok di salah satu jalan di Syam. Perampok itu telah bersiap-siap untuk membunuhnya. Laki-laki tersebut meminta waktu kepada si perampok untuk melakukan salat dua rakaat. Maka, berdirilah ia dan mulai melakukan salat.

Di saat itu ia teringat firman Allah yang berbunyi: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan bila dia berdoa kepada-Nya.” Dia membacanya tiga kali. Maka, turunlah malaikat dari langit membawa pedang, dan dengan pedang itu ia membunuh perampok tersebut. Malaikat itu berkata, “Aku adalah utusan Dzat Yang Memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan.”

Pada ayat-ayat yang lain Allah berfirman, Dan, perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thâhâ: 132). Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.)(QS. Al-‘Ankabût: 45)

Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas or-ang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa: 103). Wallahu a’lamu.

Tinggalkan Balasan

Search