Tepuk Sakinah: Antara Hiburan dan Pesan Agama

Tepuk Sakinah: Antara Hiburan dan Pesan Agama
*) Oleh : Farid Firmansyah, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Fenomena Tepuk Sakinah yang viral di TikTok menunjukkan bahwa generasi muda lebih mudah menangkap pesan serius lewat gaya yang ringan. Psikologi sosial menjelaskan, manusia cenderung mengingat informasi lebih baik bila dikemas dengan ritme, gerakan, dan emosi positif.

Jadi ketika calon pengantin diajak menepuk tangan sambil menyebut “berpasangan, janji kokoh, saling cinta, saling ridho, musyawarah”, sesungguhnya otak mereka sedang diprogram untuk menanamkan nilai-nilai perkawinan sehat secara lebih dalam.

Dari kacamata psikologi perkembangan, ini juga menjawab kebutuhan generasi Z dan milenial yang tumbuh dengan konten singkat, ritmis, dan visual. Mereka lebih responsif terhadap edukasi yang interaktif daripada ceramah panjang. Tepuk Sakinah menjadi semacam anchoring memory: sebuah jangkar kenangan yang kelak bisa teringat kembali saat konflik rumah tangga muncul. Bayangkan, ketika emosi meninggi, memori tentang “musyawarah untuk sakinah” bisa muncul sebagai pengingat sederhana.

Namun, Islam menegaskan bahwa nilai-nilai ini bukan sekadar yel-yel. Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah)” (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat ini meneguhkan bahwa sakinah, mawaddah, dan rahmah adalah pilar rumah tangga Islami, yang kini coba dikenalkan kembali lewat format yang ramah generasi muda.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan pentingnya membangun rumah tangga dengan komitmen: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini selaras dengan poin dalam Tepuk Sakinah tentang saling hormat dan saling jaga. Artinya, yel ini bukan hanya “trend lucu”, tapi menghidupkan kembali sunnah Nabi dalam bentuk yang mudah diterima di zaman TikTok.

Pada akhirnya, viralnya Tepuk Sakinah punya dua sisi. Sisi positifnya, ia menjembatani bahasa agama ke ranah populer sehingga nilai rumah tangga sakinah bisa menembus layar ponsel anak muda. Namun sisi negatifnya, bila hanya dianggap hiburan, pesan sakralnya bisa hilang.

Maka di sinilah peran KUA, penyuluh, dan orang tua memastikan bahwa setiap tepuk bukan sekadar ritme, melainkan doa, janji, dan komitmen. Sebab, kehormatan pernikahan tidak terletak pada viralnya yel-yel, melainkan pada kokohnya niat dan kesungguhan menjaga keluarga.

 

Tinggalkan Balasan

Search