Tidak Layak Masuk Surga Pemutus Tali Silaturahmi

Tidak Layak Masuk Surga Pemutus Tali Silaturahmi
*) Oleh : Drs Muhammad Nashihudin MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya, “Al-Qalam, ” bahwa makna yang dimaksud ialah pena yang digunakan untuk menulis zikir (peringatan).

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala):

{وَمَا يَسْطُرُونَ}

dan apa yang mereka tulis. (Al-Qalam: 1)

Yakni segala sesuatu yang mereka tulis; sama dengan tafsir yang sebelumnya.

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ}

berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. (Al-Qalam: 2)

Yaitu segala puji bagi Allah, engkau bukanlah orang gila sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang bodoh dari kalangan kaummu yang mendustakan apa yang engkau sampaikan kepada mereka berupa petunjuk dan perkara hak yang jelas, karenanya mereka menuduhmu sebagai orang gila.

{وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ}

Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. (Al-Qalam: 3)

Maksudnya, bahkan bagimu pahala yang besar dan imbalan yang berlimpah yang tiada putus-putusnya dan tidak akan lenyap imbalan pahala kamu menyampaikan risalah Tuhanmu kepada makhluk dan kesabaranmu menghadapi gangguan mereka yang menyakitkan. Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

عَطاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. (Hud: 108)

Dan firman-Nya yang lain, yaitu:

فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (At-Tin: 6)

Yakni pahala yang tiada putus-putusnya dari mereka. Mujahid mengatakan bahwa gairu mamnun artinya yang tiada terhitung, tetapi pendapat ini semakna dengan apa yang telah kami katakan sebelumnya.

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Al-Qalam: 4)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya engkau Muhammad, berada dalam agama yang hebat, yaitu agam Islam.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Abu Malik, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ad-Dahhak dan Ibnu Zaid.

Menurut Atiyyah, disebutkan benar-benar berbudi pekerti yang agung. Ma’mar telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa ia pernah bertanyakepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka Aisyah menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Sa’id ibnu Abu Arubah mengatakan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Al-Qalam: 4) Diceritakan kepada kami bahwa Sa’d ibnu Hisyam pernah bertanya kepada Aisyah r.a. tentang akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka Aisyah balik bertanya kepadanya, “Bukankah engkau telah membaca Al-Qur’an?” Sa’id menjawab, “Benar,” Aisyah berkata: Maka sesungguhnya akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Search