Tidak Layak Masuk Surga Pemutus Tali Silaturahmi

Tidak Layak Masuk Surga Pemutus Tali Silaturahmi
*) Oleh : Drs Muhammad Nashihudin MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Sa’d ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah?” Aisyah balik bertanya, “Bukankah kamu telah membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Maka ia berkata: Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Ini merupakan ringkasan dari suatu hadis yang cukup panjang.

Imam Muslim telah meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya melalui hadis Qatadah dengan panjang lebar yang nanti akan diterangkan di dalam tafsir surat Al-Muzzammil, insya Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka Aisyah menjawab: Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Qais ibnu Wahb, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Sawad yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka Aisyah balik bertanya, bahwa bukankah kamu telah membaca firman-Nya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Al-Qalam; 4) Lalu aku berkata, “Ceritakanlah kepadaku salah satu dari contohnya.” Aisyah r.a. menceritakan bahwa ia membuat makanan untuk Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan bertepatan dengan itu Hafsah pun membuat makanan untuk beliau.’ Lalu ia berpesan kepada budak perempuannya yang akan disuruhnya mengantarkan makanan itu, “Pergilah kamu, dan lihatlah bila Hafsah datang dengan membawa makanannya sebelumku. Maka buanglah makanannya.” Ternyata Hafsah pun datang dengan membawa makanannya. Maka budak perempuan Aisyah itu menjatuhkan dirinya dan mengenai mangkuk makanan Hafsah hingga mangkuknya pecah dan makanannya terjatuh, sedangkan mangkuk yang dipakai adalah barang pecah belah. Lalu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) memungutnya dan bersabda, “Gantilah olehmu, atau engkau harus mengganti – Aswad ragu – wadah ini dengan wadahmu.” Setelah itu Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak mengucapkan kata-kata lagi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Adam ibnu Abu Iyas, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan, dari Sa’d ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa ia datang kepada Aisyah Ummul Muminin, lalu menanyakan kepadanya tentang akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka ia menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an, tidakkah kamu telah membaca firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur’ (AL-Qalam: 4).”

Imam Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkan hal yang semisal melalui hadis Al-Hasan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah -menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Abuz Zahiriyah, dari Jubair ibnu Nafir yang mengatakan bahwa ia melakukan ibadah haji, lalu mengunjungi Aisyah r.a. dan menanyakan kepadanya tentang akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka ia menjawab: Akhlak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah Al-Qur’an.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdur Rahman ibnu Mahdi. Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab tafsir, dari Ishaq ibnu Mansur, dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Mu’awiyah ibnu Saleh dengan sanad yang sama.

Makna yang dimaksud dari kesemuanya ini menunjukkan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah seorang yang mengamalkan Al-Qur’an; mengamalkan perintahnya dan manjauhi larangannya, yang hal ini telah tertanam dalam diri beliau sebagai watak dan pembawaannya serta sebagai akhlak yang telah terpatri dalam sepak terjang beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka apa pun yang diperintahkan oleh Al-Qur’an, beliau pasti mengerjakannya; dan apa pun yang dilarang oleh Al-Qur’an, beliau pasti meninggalkannya. Hal ini di samping watak yang dibekalkan oleh Allah dalam diri beliau berupa akhlak yang besar seperti sifat pemalu, dermawan, berani, pemaaf, penyantun, dan semua akhlak yang terpuji. Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Sahihain, dari Anas yang telah mengatakan:

“Aku menjadi pelayan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) selama sepuluh tahun, dan beliau sama sekali belum pernah membentakku dengan kata, “Husy!” Dan belum pernah mengatakan terhadapku tentang sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, “Mengapa engkau melakukannya?” Dan tidak pula terhadap sesuatu yang seharusnya kulakukan, “Mengapa tidak engkau lakukan?” Beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah seorang yang paling baik akhlaknya, dan aku belum pernah memegang kain sutra, baik yang tebal maupun yang tipis dan tidak pula sesuatu yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Dan aku belum pernah mencium minyak kesturi dan tidak pula wewangian lainnya yang lebih harum daripada bau keringat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yuuus, dari ayahnya, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Al-Barra r.a. telah mengatakan: Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling baik akhlaknya; tubuh beliau tidak terlalu tinggi, dan tidak pula terlalu pendek.

Tinggalkan Balasan

Search