Tidak Semua yang Tampak Suci Benar-Benar Bersih di Sisi Allah

Tidak Semua yang Tanpak Suci Benar-Benar Bersih di Sisi Allah
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya ada sesorang yang melakukan amalan ahli surga menurut pandangan manusia padahal ia termasuk ahli neraka.

Ia mengingatkan kita bahwa penilaian manusia sering kali hanya berhenti pada tampilan luar: pakaian, ritual, atau simbol-simbol kesalehan. Namun, Allah menilai hati, niat, dan keikhlasan, bukan sekadar bentuk lahiriah.

Makna yang Terkandung

* Kesucian sejati ada di hati: Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim).

* Bahaya kemunafikan: Orang bisa tampak alim atau suci di mata manusia, tetapi jika hatinya penuh riya, dengki, atau kesombongan, maka itu tidak bernilai di sisi Allah.

Bahaya Kemunafikan dalam Perspektif Qur’an & Hadis

1. Dosa besar yang tersembunyi:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS. An-Nisa: 145).

2. Merusak kepercayaan sosial: Munafik membuat orang lain bingung dan kehilangan rasa percaya, karena ucapan dan tindakan tidak konsisten.

3. Menghancurkan amal: Amal yang disertai riya atau kepura-puraan tidak bernilai di sisi Allah.

4. Melemahkan umat: Dalam sejarah, kemunafikan menjadi sumber fitnah, perpecahan, dan pengkhianatan.

* Pembersihan batin lebih utama: Membersihkan hati dari penyakit seperti iri, ujub, dan cinta dunia adalah inti dari kesucian yang diridhai Allah.

Pembersihan batin lebih utama” adalah inti dari perjalanan spiritual: Allah menilai hati, bukan sekadar amal lahiriah. Mari kita uraikan dalam bentuk refleksi yang bisa dipakai sebagai panduan harian.

Mengapa Pembersihan Batin Lebih Utama

1. Hati adalah pusat niat: Amal yang besar bisa gugur jika niatnya salah, sementara amal kecil bisa bernilai besar bila ikhlas.

2. Sumber akhlak: Akhlak mulia lahir dari hati yang bersih; hati yang kotor melahirkan kebencian, iri, dan kesombongan.

3. Ketenangan hidup: Hati yang bersih membawa kedamaian, sementara hati yang kotor membuat hidup penuh kegelisahan.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa tidak semua yang tampak suci benar-benar bersih di sisi Allah, karena Allah menilai hati dan ketakwaan, bukan sekadar penampilan lahiriah:

QS. An-Najm: 32
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ
Artinya: Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh merasa suci atau menilai dirinya bersih, karena hanya Allah yang mengetahui hati dan ketakwaan seseorang.

QS. Al-Baqarah: 222
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.

Kesucian sejati bukan sekadar tampilan, melainkan taubat dan pembersihan hati yang Allah cintai.

Inti Pesan:

* Kesucian lahiriah tidak cukup: Pakaian atau simbol kesalehan tidak menjamin kebersihan hati.

* Allah menilai batin: Hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.

* Taubat dan keikhlasan: Kesucian sejati adalah kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.

Ayat-ayat ini menjadi dasar bahwa kesucian sejati bukanlah apa yang terlihat oleh manusia, melainkan kebersihan hati dan ketakwaan yang Allah nilai.

 

Tinggalkan Balasan

Search